Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Sego Empal "Makyusss"

Jika berkesempatan mengunjungi kota Yogyakarta dan ingin menikmati kuliner ala backpacker'an (murah meriah) maka sego empal ini tidak boleh dilewatkan. Harganya yang terjangkau sekitar 12ribu/porsi dengan kulitas rasa yang tidak kalah dengan resto membuat sego empal ini isttimewa. Satu porsi sego empal ini terdiri dari nasi, empal atau lauk lainnya, lalapan mentah dan tentunya sambel korek yang super pedas memanjakan  lidah, apalagi jika ditambah sayur asem-asem tambah maknyuss. 
Daging empal yang empuk dengan cita rasa khas ditambah dengan sambel yang pedas, nasi putih yang masih mengepul dan sayur asem-asem yang tentu saja asam membuat kombinasi yang cukup ajaib untuk membuat mulut ini terus mengunyah hingga suapan terakhir tanpa terasa.
Lokasi sego empal ini berada di pasar Bringharjo lantai 2. Karena belum mengenal medan Bringharjo yang cukup luas maka cukup sulit juga menemukan tempat makan ini, cara ampuh untuk cepat mengetahui tempatnya ya bertanya :D
Ketika menemukan lokasi sego empal 'Bu Warno' tidak seperti yang saya bayangkan (ngebayangin tempat makan dengan interior kafe atau resto). Tempat makan ini sangat sederhana, sebuah kios dengan luas sekitar 2x3 meter, terdapat 2 bangku panjang dan meja untuk sajian. So, jika berburu batik di Bringharjo jangan lupa singgah untuk menikmati kuliner ini.

Read Users' Comments (2)

Cicip Gudeg di Stasiun Gondangdia

Di hari kerja para pekerja kantoran, kerah abu-abu sampai yang berdasi dalam keterburuannya menyempatkan diri mampir di kotak Gudeg Bu Tina, di Stasiun Gondangdia. Semoga setelah Puasa ini , gurih dan manisnya gudeg Bu Tina bisa mampir kembali ke lidah kita.

Dari kecuekan saya, dan kadang malu-malu kalau makan di Stasiun (lah kadang-kadang kita suka malu-malu ga jelas gitu kan?), akhirnya rasa penasaranlah yang menang. Saya menyukai gudeg, dan di Stasiun Gondangdia terletaklah sebuah kotak sederhana yang menjual gudeg, tempe tahu bacem, ayam goreng, opor, krecek etc etc.

Kenapa saya sebut kotak? Lah disebut warung sepertinya ga mirip warung. Kios juga tidak cocok, apalagi restoran. Hanya gabungan etalase, meja dan bangku sederhana yang membentuk huruf U dengan si mbok dan si mas yang sibuk mencampur gudeg sesuai selera pembeli, dan lalu lalang mengantar piring, gelas teh serta membereskan sisa piring.

Si Mbok dan Mas inilah para pahlawan bangsa bagi saya kalau sedang menuju kantor di MH Thamrin, di kala pagi hari saat perut minta jatah, gurihnya gudeg mampu memberikan arti kata rasa enak kepada otak yang kadang bebal tidak mau menerima makanan lain, padahal jelas-jelas kata artikel ilmiah kalau tidak makan pagi IQ bisa merosot sampai belasan point (telmi, dan peringatan keras bagi yang mau tes psikologi di perusahaan).

Sepiring gudeg, krecek, tahu, telur, berwarna coklat, sedikit kacang dan nasi hangat plus teh dihargai Rp 8000,-. Worthedlah daripada saya beli makanan Amerika McD yang selain rasanya menurut saya kaya makan lemak goreng juga tidak bersahabat dengan para petani dan lingkungan (baca dong tentang McD di internet ya bagi yang belum tahu).

Masalah harga, disini tinggal hitung sendiri saja kalau mau ditambah tempe, tahu bacem (Rp 1500), plus ayam goreng / opor (paha, dada- Rp 5000 - 8000?) atau es teh manis (Rp 2500)... Puas memang dengan para asesoris gudeg disini. Apapun ada.

Saya biasanya memilih paket Rp 8000 saja (nasi gudeg, telur, krecek, tahu) karena kalau ditambah ayam, membersihkan tangan akan kurang bersih (Bu Tina tidak menyediakan air kobokan karena sepertinya doi sibuk banget, dan mungkin karena sumber airnya jauh juga ya..?). Makan gudeg plus-plus hanya saya lakukan siang hari biasanya jikalau sedang santai dan sehabis menyelesaikan pekerjaan, jadi bisa sambil cuci tangan dengan nyaman (beruntunglah yang bisa memakai sendok dan garpu saat memakan opor ayam).

Yang istimewa pada Gudeg Bu Tina selain kelengkapannya (well, top lah lengkap banget), semua masakannya juga disiapkan sungguh-sungguh. Maksudnya adalah bumbu meresap di gudeg, telur, krecek, ayam dan lain-lain tidak seperti gudeg asal-asalan yang rasanya encer dan asal cemplung di panci. Untuk rasa, berdasarkan pengalaman pergudegan, rasa manisnya sedang, sedang gurihnya pas. Tidak salah kalau para pekerja di pagi hari berbondong-bondong berkumpul atau membungkus gudeg untuk disantap di siang hari. Satu orang membeli 8 bungkus ya masih dalam tahapan wajar kayanya kalau disini.

Jangan lupa kalau mau kesini, datanglah sebelum pukul 2 siang. Sebab dikala mendekati senja sudah dapat dipastikan gudeg Bu Tina habis. Hiburan bagi lidah diluar kota Yogyakarta.

Get There
Ke Stasiun Gondangdia? Paling gampang ya pakai kereta api, ekonomi cuma Rp 2.500,- dari Bogor (siapa tahu Om dan Tante dititip ma anak, cucu atau istri). Kalau pakai jalur bussway dari Kota atau Blok-M tinggal turun di Sarinah, lalu ngojek ke Stasiun Gondangdia (Rp 5000,-), atau jalan kaki 10 menit [Indra NH].

Read Users' Comments (1)comments

Mie Ayam Jamur "Gaya Tunggal"


Ingin menikmati mie ayam gaya lama di Bogor? Mampirlah sebentar ke Gaya Tunggal, restaurant mie ayam jamur terkenal di Bogor sebelum pulang ke kota Anda masing-masing.

Bagi sebagian warga tua Bogor, Gaya Tunggal lebih daripada rumah makan yang menyediakan menu-menu chinese food lezat, melainkan tempat untuk bertemu, kongkow-kongkow dan bernostalgia.

Menurut orang tua saya, dahulu Gaya Tunggal dikenal sebagai rumah makan Washington, letaknya sudah sama seperti sekarang yaitu di depan Gedung Zoologi Bogor, atau sering dipanggil Gedung Blao oleh warga asli Bogor dahulu.Lagi, menurut orang tua saya, rumah makan Washington ini sudah ada sejak tahun 1950an, saat Pasar Ramayana dan Pasar Bogor masih becek-beceknya (sekarang Mall BTM dan Plaza Bogor) dan Bio (Klenteng) dalam bentuk aslinya.
Pergunakan sedikit kuah saja...
Sempat pindah ke Pasar Anyar tahun 80an dan 90an: di dalam Pasar Anyar sebelum terbakar di tahun 80an akhir dan pindah ke sebuah gang kecil di sudut Pasar Anyar di sudut jalan Sawojajar, saat ini Gaya Tunggal sudah punya 2 cabang di Bogor yaitu di pertokoan Jalan Bangbarung (restaurant) dan Food Court Mall Botani Square. Bangunan lama di depan Gedung Zoologi sudah ditempati lagi, sekaligus menjadi tempat berkumpul dan bernostalgia

Menu yang sangat terkenal di sini adalah mie ayam jamur, yang bisa ditambah dengan bakso dan pangsit basah / kering. Sebagai teman minum, selain teh hangat kita juga dapat memesan es kelapa kopyor, shanghai, atau menu standar saya: es sirup yang baiknya tidak diaduk merata karena biasanya sangat manis (atau mintalah tambahan air putih sebagai pengencer).

Mie ayam di Gaya Tunggal dibuat sendiri. Rasanya percampuran sedikit asin dan manis, tidak menggigit namun pas saat disantap. Rasa jamurnya manis dan merupakan teman sejati dari mie ayam, sama seperti potongan ayamnya yang putih bersih, sedikit asin.

Kita tentu saja bisa memesan yamien, atau biasa namun saran saya nikmatilah mie ayam bakso jamur pangsit ini seadanya. Tambahkan hanya sedikit kecap manis apabila menginginkan tambahan rasa manis, atau sedikit saus bila menginginkan pedas, jangan terlalu banyak karena akan menghilangkan rasa asli dari mie ayam jamur itu sendiri. Pergunakan sedikit kuah, hanya untuk mengaduk mie ayam agar jamur dan potongan ayam tercampur rata.

Untuk mengulang rasa aslinya, minumlah teh hangat di tengah perjalanan makan, lalu lanjutkan makan. Rasa teh yang pahit akan menimbulkan kembali rasa gurih mie ayam jamur saat disantap.

Apabila Anda bukan penggemar mie ayam, silahkan coba nasi tim ayam (menurut sepupu saya "terbaik di dunia") atau masakan chinese food lain seperti nasi goreng, mun tahu, capcay, puyunghay dan bistik. Semua masakan halal.

How Much and How We Can

Mie ayam dengan tambahannya, jamur bakso dan pangsit berkisar antara Rp 8000 sampai 15000. Es sirup Rp 3000. Masakan dan minuman lain tidak mahal. Menu lain yang istimewa menurut saya adalah nasi tim ayam. Kunjungi rumah makan Gaya Tunggal yang berada di depan Gedung Zoologi Bogor, dekat pintu masuk Kebun Raya Bogor untuk rasa yang tetap asli. Untuk mie ayam, jangan gunakan delivery atau bawa pulang, rasa akan berbeda.

Read Users' Comments (0)

Ayo Sama-Sama Antri Laksa Bogor

Jam 8 pagi saya sudah datang untuk menikmati kuliner khas Bogor ini , satu jam sebelum dibuka. Selang berapa lama dua tiga orang muncul dan terus. Hitung-hitung kira-kira ada 20 orang yang sudah antri saat Pak Didin, penjual laksa di Pamoyanan – Bogor muncul membawa pikulannya – jam 9 pagi saat kuah bumbu sudah mengepul dan mangkok siap ditangan. Istri Pak Didin memotong dan mengupas telur rebus. Semua sudah siap!


Berawal dari iseng main sepeda di Bogor, saya yang sering kali melewati jalan Batutulis – Cihideung tersadarkan bahwa ada satu tempat berhenti favorit bagi banyak orang – dan termasuk lokasi kuliner favorit di Bogor, yang letakya ada di kaki Gunung Salak. Bagaimana tidak, laksa Bogor yang letaknya di luar kota Bogor ini sampai dikunjungi mobil ibu-ibu dari jauh, dari Jakarta dan sekitarnya.

“Saya datang kemarin dari Jakarta, sambil menengok saudara di Bogor.” Kata seorang bapak-bapak yang datang naik mobil berlima bersama keluarganya.

“Laksa Bogor sudah jarang yang jual sekarang, dan laksa disini rasanya pas - belum berubah”. Lanjutnya lagi.

Daun kemangi dan oncom merah
Sebenarnya apa sih istimewanya laksa Bogor yang satu ini? Ternyata selain memang campuran bumbunya lezat, dan gurih – harganya juga murah, Rp 4000,- / porsi dengan bonus dua  belahan penuh telur rebus dan tahu. Bumbunya, berwarna kuning berasa sedikit manis, dan daun kemanginya pas benar memberikan rasa segar saat digigit.

Tak heran kalau semua penggemar kuliner sampai mencarinya ke daerah Palasari, Cijeruk ini, padahal dari pusat Kota Bogor butuh waktu kurang lebih 20-30 menit untuk sampai ke lokasi ini.

“Mohon maaf kalau parkir tidak tersedia saking penuhnya kalau Sabtu, Minggu atau hari libur…”, kata tukang parkir di situ sambil tersenyum, yang turut bahagia kecipratan rejeki dari pengunjung. Lapangan kerja baru tercipta secara tidak sengaja dari para penggemar makanan tradisional ini.

Ditiriskan dengan kuah kuning laksa
Saran pertama saya : sabar-sabarlah mengantri untuk mencicipi laksa ini. Mengetes campuran bumbu oncom merah, bihun, toge, daun kemangi yang terkenal di Bogor ini perlu waktu, karena antrian kadang bisa mencapai dua digit. Uniknya di sini yang naik mobil tidak berbeda dengan yang naik motor dan jalan kaki. Semuanya harus sabar antri di dekat bilik Pak Didin, sambil kadang terkena perih dimata terkena asap dari kayu bakar yang digunakan untuk memanaskan panci.

Saran kedua saya : buat  amannya bila ingin menyantap laksa Bogor nan lezat ini ambilah waktu hari biasa saja. Walau tetap penuh namun waktu antri akan lebih cepat, begitu nasehat teman saya. Memang benar, apalagi jika Pak Didin menerima order bungkusan, misal satu orang membawa tiga bungkus yang mana hal ini juga lazim terjadi, maka tentulah datang di hari biasa menjadi pilihan yang lebih tepat dari segi waktu.

Antri, harap sabar ya semua :)
Apabila merasa kesulitan mencari lokasi Laksa Pak Didin ini, Anda dapat mengikuti jalur angkot Ramayana – Cijeruk atau Ramayana – Cihideung di Bogor, yang juga merupakan jalur alternatif menuju Sukabumi (Cigombong) dari Bogor.  Biliknya terletak di sebelah kanan jalan apabila kita berkendara dari Bogor. Sebelum pertigaan Palasari - Cijeruk, Anda dapat bertanya ke orang-orang di jalan. Pak Didin sudah sangat lama berjualan disini jadi semua orang hampir mengenalnya.

Sebagai patokan, sebuah warung penjual bensin eceran ada di dekatnya dan bilik Pak Didin walau sederhana cukup ramai dengan parkiran motor-motor berjajar di samping jalan. Hanya saja letaknya terdapat di belokan menurun sehingga kadang terlewat oleh pengendara yang terlalu cepat mengemudikan kendaraannya.

Saran ketiga saya : apabila sudah sampai di bilik laksa Pak Didin jangan lupa sekalian pesan es kelapa atau campur. Cukup menambah Rp 3.000,- es segar ini bisa dinikmati. Kuah hangat laksa plus es kelapa dingin, dinikmati sambil duduk bersama di bilik sederhana, plus suasana pedesaan dan bau asap kayu bakar. Hmm… memang tidak semua bisa ditemui di mall ya ^_^?



Get There
Gunakan angkutan umum dari Bogor Trade Mall (Ramayana), Kota Bogor jurusan Ramayana-Cijeruk atau Ramayana- Cihideung, turun sebelum pertigaan Palasari-Cijeruk (bilang tukang laksa ke sopir). Ongkos Rp 2.000,-.[Indra NH]

Read Users' Comments (0)