Showing posts with label Pegunungan. Show all posts
Showing posts with label Pegunungan. Show all posts

Melarikan Diri di Hari Kerja : Kebun Teh Gunung Mas!

Apakah pernah terpikir oleh Anda mengerjakan pekerjaan kantor Anda di tengah hamparan kebun teh, di tengah restoran sambil dihembus kabut dingin? Mengapa tidak, kebun teh Gunung Mas hanya berjarak 1 jam 15 menit perjalanan dari Bogor..!

Bermula dari perasaan bosan saya mengerjakan pekerjaan di kantor, saya berinisiatif untuk meminta ijin kepada atasan untuk membawa pekerjaan saya keluar kantor, dengan tujuan untuk menyelesaikannya diluar. Beruntung, kantor saya tidak menerapkan sistem ketat mengenai waktu dan lokasi kerja. Selama pekerjaan dapat diselesaikan, staf dapat memilih waktu kerjanya tersendiri. Untuk hal-hal penting, keberadaan di kantor memang wajib, namun lainnya tidak.

Pagi-pagi, saya menyiapkan termos berisi air panas, gelas, instan jahe, kopi dan lain-lain. Tujuan saya adalah perkebunan teh Gunung Mas, yang terletak di Kawasan Tugu, Puncak, yang berketinggian 1200-1500 meter dpl.

Walau bulan Juli ini aneh, hujan selalu dimana-mana (wah, perubahan iklim memang sangat terasa saat ini) namun saya memutuskan tetap pergi, hujan ataupun tidak. Sekali niat jalan-jalan, niat harus selalu dipegang – begitu pikir saya, sama seperti petani yang tetap menggarap lahan walau hujan turun (lah petani kan kerjanya lebih berat daripada kita yang cuma jalan-jalan?)

Jadi dengan naik angkot berangkatlah saya. Hujan turun berkali-kali saat perjalanan yang namun selalu berhenti saat saya berpindah transportasi, sehingga sampailah akhirnya di Desa Tugu, Puncak. Desa Tugu berbatasan langsung dengan areal kebun teh. Di sebelah kiri adalah perkebunan Ciliwung (karena dilewati Sungai Ciliwung yang masih kecil dan jernih) sedangkan perkebunan Gunung Mas terletak di sebelah kanan jalan.

Pintu masuk resmi Gunung Mas terletak menjorok ke dalam dan ditandai dengan ucapan selamat datang besar, sedangkan jalur masuk pemetik teh terletak dimana-mana di pinggir kebun berupa jalan setapak. Jalur pemetik teh terdekat dari perhentian angkot di Tugu terletak sepelemparan batu di pinggir jalan, dibatasi dengan portal penghalang mobil.

Warung penjaja makanan dan souvenir
Jadi akhirnya sampailah saya, setelah melewati jalur pemetik teh ke istal kuda. Sepanjang perjalanan “teawalk” saya berhati-hati: kotoran kuda ada dimana-mana. Memang bagian depan Gunung Mas adalah rute berkuda wisatawan. Pada hari biasa seperti ini (diluar Sabtu dan Minggu) tampak beberapa wisatawan dari Timur Tengah mencoba tunggangan kuda, sambil ngobrol-ngobrol di tea corner.

Saya juga beristirahat di tea corner. Disini kita bisa memesan poci teh hijau atau hitam, khas tempat ini atau kopi, bandrek sambil ditemani pisang goreng telanjang ; atau makan siang dengan nasi goreng, mie ayam atau soto mie. Harga makanan di tea corner lebih mahal sedikit dibanding di luaran, namun masih terjangkau.

Sehubung akan mengerjakan pekerjaan saya di tea corner, maka tak lupa saya membeli kotak berisi teh hitam, untuk dibawa pulang. Pilihan meja dan bangku dengan sudut memandang ke hamparan teh saya pilih sebagai tempat kerja saya. Bila ingin memakai laptop, Anda dapat memilih bangku di sudut, dengan colokan listrik di dekatnya.

Bunga teh, sebelum menjadi biji
Mengerjakan tugas dengan memandang kebun teh sungguh menyenangkan. Tak lupa saya siapkan minuman jahe yang saya seduh dengan air panas dari termos yang saya bawa. Angin dingin sehabis hujan kadang bertiup sehingga saya memutuskan memakai jaket lagi. Kabut seringkali muncul tiba-tiba, untuk kemudian terangkat lagi. Begitu berulang-ulang, dan kadang kabut masuk ke dalam restoran, sehingga rasanya seperti sedang bekerja di dunia lain.

Kertas-kertas saya susun rapi di meja. Gelas dan termos di bangku.

Sebenarnya kalau Anda senang berjalan-jalan, Anda bisa melanjutkannya ke arah atas sedikit dari Tea Corner. Ada pabrik teh yang bisa kita masuki dengan guide, areal bermain anak dengan bebek-bebekan di kolam, lapangan tenis dan penginapan. Pada hari Sabtu dan Minggu tempat ini cukup ramai, bahkan areal flying fox dan trampoline rope adalah salah satu lokasi favorit bermain pengunjung.

Saya sengaja berkunjung di hari kerja, kan tujuannya memang untuk bekerja juga 

Kira-kira 3 jam, pekerjaan saya selesai. Tidak terlalu banyak memang, namun energi saya kembali terisi.
Setelah ransel kembali disandang, saya berjalan-jalan sebentar di areal kebun. Saya sempat bertemu para perempuan pemetik teh, dengan plastik di dada sampai kaki – sebagai penangkis embun saat memetik teh. Gerombolan berjalan searah, seperti para semut berwarna-warni di antara hijaunya daun teh.

Kalau saja memang kantor kita semua berada di tengah-tengan kebun teh…

Get There and How to Survive

Dari Terminal Bis Bogor (Baranang Siang) Anda dapat naik angkot jurusan Baranang Siang Ciawi sampai Ciawi (Rp 2.000, 30 menit) dan meneruskan dengan angkot jurusan Ciawi – Cisarua (Rp 5000, 45 menit). Jangan lupa untuk memberitahu supir bahwa Anda akan turun di Tugu, sebab tidak semua angkutan sampai kesana. Apabila menginginkan lebih murah Anda dapat menggunakan minibus / bus dari Terminal Baranang Siang sampai Tugu dengan ongkos Rp 5.000. Apabila ingin menghemat, Anda yang dari Jakarta dapat menggunakan kereta ekonomi (Rp 2.500) atau naik bis dari Kampung Rambutan – Garut / Tasikmalaya dan turun di Tugu.

Apabila ingin menghemat biaya, silahkan ikuti jalur masuk para pemetik teh (tanpa tiket  ^^V )makan siang dapat dilakukan di luar tea cornering (atau sebelumnya, di warung-warung di Tugu). Bawa termos air panas, gelas, sendok, kopi dan jahe instan. Hitung-hitung, sebenarnya dengan Rp 15.000 - 20.000 semua sudah bisa di cover, dari perjalanan, makan siang en oleh-oleh teh tubruk... Memang hemat dan bahagia bisa jalan seiring kok...

Read Users' Comments (0)

Di Balik Uap Segelas Kopi Lampung

Dari sederet jenis kopi di Indonesia, kopi lampung mempunyai penggemar yang sangat besar. Kopi lampung adalah kopi jenis robusta, yang ditanam di dataran rendah sampai tinggi. Ini adalah cerita megenai apa yang terjadi di balik segelas kopi panas yang mengepulkan uapnya, di sebuah Dusun kecil bernama Buluh Kapur.


Buluh Kapur adalah sebuah Dusun kecil di Way Tenong, Lampung Barat, yang terletak bersebelahan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Dengan ketinggian sekitar 900 meter dan tanah yang berpasir, Dusun ini sudah mengembangkan tanaman kopi yang tumbuh subur sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Dusun yang berbatasan dengan hutan lindung ini memiliki sejarah konflik berkaitan dengan perkebunan dan penebangan liar. Oknum pemerintah dan tentara terlibat dalam pencurian kayu selama bertahun-tahun, membuat kerusakan lingkungan yang sulit diproses di ranah hukum.

Untuk menanggulangi pengrusakan lingkungan, akhirnya konsep HKM (Hutan Kemasyarakatan) dibentuk. Masyarakat diberi hak untuk menggarap lahan yang sudah ditempati di wilayah hutan, menanam tanaman keras sebagai tanaman konservasi dan bertugas sebagai penjaga lingkungan di wilayahnya sendiri. Kopi ditanam berdampingan dengan pohon meranti, melinjo, nangka, jinjing, cempaka dan lain-lain,

Saat ini, antara bulan April sampai Agustus apabila kita berjalan di sekitar Lampung maka warna hitam, merah, hijau dan kuning dari buah akan menghiasi pekarangan rumah. Penjemuran dilakukan 2-4 minggu bergantung cuaca, sampai kering.

Harga jual kopi sangat bergantung pada kualitas dan kandungan air biji kopi. Kopi kualitas terbaik, dengan kadar air 13% dapat berharga sejumlah Rp 14.500 / kg di pengepul, sedangkan kopi basah dengan kadar air lebih dari 30% hanya berharga sejumlah Rp 7.800 / kg saja. Dengan menghitung lahan penduduk yang bekisar antara 0,5-1,5 hektar, dan produksi antara 0,5-3 ton per tahunnya (bergantung musim), umumnya pendapatan dari kopi sekedar mencukupi saja untuk sekolah dan kehidupan sehari-hari mereka.

---

Suasana yang paling menyenangkan bagi saya, selain keramahan penduduknya - yang kebanyakan berasal dari Pulau Jawa adalah suasana menjelang pagi hari di Dusun. Dari rumah panggung saya dapat melihat sungai mengalir di kejauhan, berwarna perak. Terkadang kabut masih turun sampai jam 8 pagi dan hamparan tanaman kopi sampai sungai masih ditutupi oleh kabut, nampak berjalan perlahan sampai kemudian terangkat oleh sinar matahari.

Saya menginap di rumah Bapak Darsono.  Bapak Darsono memiliki satu orang istri dan tiga orang anak yang masing-masing bersekolah.

Penjemuran kopi umumnya dilakukan di pekarangan rumah
“Uang kopi ini terutama untuk sekolah anak-anak. Terkadang cukup, terkadang tidak cukup, bergantung pada musim panen setahun sekali,” Ucapnya sambil mengepulkan sejenis rokok lokal “RAWIT”

Disini, panen kopi memang tidak menentu. Pada musim yang buruk, seperti tahun 2008, petani menderita kerugian yang amat besar dan hutang kepada “bos kopi”menumpuk. Pada musim panen 2009, panen kopi mereka cukup baik, namun menutup lubang hutang yang besar juga membuat keadaan ekonomi mereka tidak kunjung membaik. Ironis menurut saya sebab kopi adalah komoditas unggulan Lampung, namun tidak berarti menanam kopi adalah sejahtera. Libatan hutang adalah permasalahan yang sangat pelik yang harus diselesaikan di Dusun ini.

Kopi Lampung sangat terkenal di Indonesia, bahkan dunia. Harga mahal diluar tidak berarti kesejahteraan penanam kopi juga meningkat. Ada yang perlu dibereskan terlebih dahulu.  Salah satunya adalah masalah lahan HKM, Hutan Kemasyarakatan, yang seperti pisau bermata dua, berpotensi merugikan masyarakat apabila pengelolaannya tidak tepat.

Saat ini lahan-lahan HKM, yang dimiliki masyarakat menyusut akibat pembelian hak garap oleh penduduk di luar Dusun.

Royongan, kegiatan kerja bakti di Dusun
Saya sangat khawatir akan hal ini. Bahkan di Buluh Kapur, yang masyarakatnya terkenal akan kekuatan, keswadayaan dan pemikirannya yang kritis hal ini terjadi. Lahan HKM beberapa mulai terlepas ke tangan orang diluar Dusun, pemilik modal.  Lalu apa yang terjadi dengan Dusun lainnya, apakah hal lain yang lebih parah terjadi? Bukankah seharusnya pengelola HKM adalah masyarakat sekitar yang mengenal daerahnya sendiri dan bergantung pada keberadaan lahan HKM?

Di malam hari gelap tanpa cahaya, selain dari terobosan kecil lampu teplok yang menembus dinding papan rumah-rumah di sekitar Masjid, suara tetabuhan dari jauh terdengar. Terbangan adalah seni tetabuhan dan vokal yang dilakukan oleh para ibu-ibu sebagai syukuran akan kelahiran seorang anak di Dusun ini. Suara mereka kompak menembus malam di Dusun yang belum terjamah listrik ini *.

Semangat kekeluargaan kental sekali disini. Seorang anak yang baru lahir akan dijaga bergantian oleh para bapak selama beberapa hari.  “Para suami siaga begitu” begitu ucap salah seorang teman saya yang senang mengamati perilaku sosial masyarakat.

Pagi hari, saat kabut terangkat - di Dusun Buluh Kapur
Biji kopi akan terasa istimewa apabila rasa dan aromanya berasal dari pilihan buah kopi dengan kualitas terbaik. Cara menyeduhnya pun menentukan rasanya. Tapi menurut saya, cerita dibaliknya lah yang
mengingatkan akan rasa kopi yang sesungguhnya.

* Catatan : saat kami meninggalkan Dusun, listrik di Masjid mulai menyala, berasal dari program mikro hidro yang dikerjakan masyarakat, didukung program Imbal Jasa Lingkungan dari ICRAF dan PLTA Way Besai.

Get There

Dari Bandar Lampung, Anda bisa menghubungi travel, Liwa Wisata (0721 7196353). Apabila Anda menyewa mobil (Rp 400.000), ingatkan sebelumnya agar sopir tidak memasang musik terlalu keras.Travel juga bisa menghitung perorangan (Rp 60.000 – 4 jam).  Bis tersedia dari Bandar Lampung, menuju jurusan Liwa. Apabila naik bis Anda dapat turun di Desa Sumber Jaya (Rp 35.000).

Buluh Kapur bukanlah desa tujuan wisata sehingga Anda harus naik ojek untuk menuju Pekon Gunung Terang (Rp 50.000 – 1 jam) dan meneruskan lagi dengan ojek setempat dari Pekon Gunung Terang menuju Dusun Buluh Kapur (Rp 20.000 – 20 menit). Gunakan hanya ojek yang biasa mengantar ke Dusun Buluh Kapur karena jalan yang ditempuh rusak dan sulit.

Contact Person yang bisa dihubungi di Dusun Buluh Kapur adalah Darsono (Ketua Forum, 085840084139) dan Tarsudin (Kepala Dusun, 08287280877) – keduanya sebaiknya dihubungi di malam hari saat tidak bekerja. Akomodasi adalah seadanya menggunakan rumah masyarakat. Apabila Anda ingin menyumbang, sebaiknya ditujukan kepada Forum HKM dan Kelompok Ibu-Ibu PKK di Dusun tersebut. [Indra NH].

Read Users' Comments (0)