Tips BookingHostel pas Backpackeran di Luar Negeri


Ini saran saya buat kamoe-kamoe yang senang jalan-jalan murah ala backpacker, untuk membooking hostel dan kawan2nya:
  • Untuk masa liburan, Sabtu Minggu pesanlah jauh-jauh. Bukan masalah engga ada hostel lain (penginapan itu pasti ada kalau rajin nyari dan jalan, tapi sudikah kamu jalan-jalan bawa tas berat apalagi kalau dapet penerbangan malem kalau ternyata hostel kamu sudah penuh? Seringkali untuk hostel dengan review baik, mereka penuh terisi saat liburan (misal kalau Song Kran Festival di Bangkok bulan April, atau Tet di Vietnam, atau Lebaran di Malaysia).
  • Punya cadangan penginapan (minimal tahu alamat penginapan sekitar yang dekat dengan penginapan utama). Sebab pernah kejadian, di penginapan kami menemui wisatawan yang sudah booking namun kamar yang mereka pesan masih ditempati orang lain (pemilik hostel ya pasti setuju-setuju aja toh kalau wisatawan sebelumnya bermaksud memperpanjang sewa kamar? Dan tidak semua penginapan punya cadangan kamar lho). Walhasil jam 11 malam wisatawan Malaysia tersebut (5 orang) yang sudah naik ke lantai 3 bawa carrier berat turun lagi ke lobi sambil marah-marah sebab kamarnya masih ada yang mengisi. Hostel-hostel murah biasanya dikelola dengan manajemen sederhana sehingga seringkali lupa dengan catatan kedatangan wisatawan.
  • Minta no HP si pengurus hostel, minimal 2 orang. Pernah kami pulang jam 12 malam sehabis jalan-jalan di Chiang Mai dan kartu magnetic kami (untuk membuka pintu) menemui masalah. Terpaksa kami menunggu di depan pintu hampir 30 menit. No telepon yang diberikan tidak dapat dihubungi, mem-bel hostel tidak ada yang jawab, untung kami mendapatkan nomor satunya lagi dari kertas yang tertempel di pintu bawah (dioper-oper juga karena si penanggung jawab rumahnya agak jauh dari hostel kami tapi lumayanlah ditanggapi dengan baik kekesalan kami).
  • Beli nomor HP lokal kalau tinggal lebih dari beberapa hari. Kembali lagi ke point nomor 3... bayangkan biaya yang dihabiskan pulsa internasional kalau kita sampai menelepon lokal di luar negeri. Stressss.
  • Cari hostel yang dekat dengan jalur transportasi masal. Lebih baik mahal sedikt dan mudah mengakses transportasi dibanding murah tapi jauh, sehingga menghabiskan biaya transportasi nantinya atau energi (cape) jalan kaki. Sori ya bro n sis, kalau waktu kita terbatas dan misal jam 11 malam kita masih harus jalan kaki 20 menit (sementara siang-malamnya juga sudah kita habiskan berjalan kaki) kayanya gempor juga lho... (pengalaman pribadi neh di Bangkok, yang lokasinya tertulis 10 menit walk from Lumphini Station  padahal diitung2 hampir 20 menit deh berjalan dan nembus gang sini situ). Tips ini tidak berlaku untuk yang perjalanannya memang mencari lokasi yang tenang dan damai.
  • Cari hostel dengan review yang baik dan dengan jumlah review yang juga banyak (kalau sedikit, curiga kalau memang diisi oleh temannya si pemilik hostel). Review adalah hasil subyektif para penginap, dan boleh menjadi acuan terpercaya.
  • Boleh juga cek dapat fasilitas apa: wifi? Makan pagi? Sewa sepeda gratis? Safety box?
  • Pada hostel terutama dengan tipe dormitory awasi barang bawaan. Jangan pernah meninggalkan barang berharga. Bule sekamar juga bisa klepto bro. Kalau bukan tipe dormitory (misal single room), tukang bersih-bersih juga bisa klepto bro sis (kasus di Pham Ngu Lao street, Saigon duit saya pernah ilang sebab istri yang baru pernah bacpackeran ninggalin duit di wastafel kamar mandi – walhasil ilang saat dibersihkan). Mau urus duit ilang bisa berabe kalo diluar negeri walau cuma ilang seratus ribuan sebab kendala bahasa bro, masa mau maki-maki pake bahasa kita sedang dia juga ga ngerti kan?
  • Di hostel, baik-baik dengan sesama bacpacker. Kami sering menemui bahwa rasa kesetiakawanan para backpacker sangat besar. Kami berbagi cerita, berbagi barang bawaan kecil-kecil (misal kopi, teh sachet, pernak-pernik kecil dan sebagai pertukaran kami juga mendapatkan hal yang sama dari mereka, selain cerita tentunya).
  • Ga yakin hostel atau punya planning lain, bookinglah untuk 1 malam saja (kedatangan). Gunakan hari kedua untuk mencek keadaan sekitar syukur-syukur dapet hostel yang lebih enak. Jangan membooking keseluruhan liburan di 1 hostel yang sama sebab kalau hostelnya tidak enak agak sulit membatalkan pemesanan (ada penalti biasanya, kecuali si pemilik memaklumi – tapi keadaan kita lebih lemah biasanya).
  • Saya suka bawa benda-benda remeh tapi penting ini di hostel: 1 universal charger sambunhin dengan 1 kaki tiga supaya bisa charge 3 alat sekaligus, tali rafia sepanjang 5 meter (beli aja 1000 di warung bro) buat jemur, kantong plastik yang rada tebel (1 atau 2) buat nyuci, pemanas air teko plastik (beli 15 ribu bro di Giant) buat nyeduh kopi, klip kertas (buat jepit baju). Buku Lonely Planet kecuali ngerasa penting banget ga usahlah dibawa sebab berat. Print aja dari internet, kecilin hurufnya – sekalian buat dicoret-coret belakangnya kalau kosong.
Wokeh segitu dulu tipsnya. Selain hostel bisa juga teman-teman menginap gratisan apabila menjadi anggota misal www.couchsurfing.com (saya sampai sekarang belum pernah inap walau sudah beberapa kali teman dari luar negeri menginap di rumah saya – beberapa kali saya coba cuma belum beruntung sebab yang punya rumah ingkar janji (membatalkan janji, sibuk bekerja misalnya). Biasanya saya suka memakai fasilitas seperti www.booking.com  (gada booking fee, kita bayar saat tiba di hostel, tapi apabila dibatalkan terlalu dekat ke hari H maka kartu kredit kita akan kena charge). Selain itu ada juga www.agoda.com atau www.hostelworld.com (dua-duanya juga saya pernah coba). Seringkali harga yang ditawarkan situs ini lebih murah dibanding booking langsung hostel. So, it’s worth a try.

Read Users' Comments (0)

Kagok-Kagokan Naik Motor di Vietnam

Kagok, begitulah yang dirasakan oleh saya saat berjalan kaki meyeberangi jalan di sekitar Ho Chi Minh City (dulu: Saigon). Bagaimana tidak, sepeda motor berlalu lalang selang-seling, terlebih di jam-jam sibuk dan jumlahnya yang sangat banyak bagaikan kumbang-kumbang yang berseliweran. Jadi heran, karena dengan lalu lintasnya yang jarang berpolisi dan dengan arah yang suka-suka saya belum menemukan para pengendara saling bertabrakan. Muka mereka pun lurus-lurus saja, tidak terlihat marah saat disalib atau misal karena dipapas motor lain dari arah yang berlawanan. Sudah biasa kali ya?
Lalu lintas di Kota Ho Chi Minh (Saigon), didominasi oleh sepeda motor
Biasanya jalan kaki menjadi kebiasaan saya kalau melakukan backpacking. Umumnya saya jalan dari pagi dan baru berhenti malam hari karena biaya menggerakkan kaki yang murah, cukup disogok dengan sedikit makanan, dan bisa dipakai satu hari penuh.

Cuma di Vietnam ini, kebiasaan jalan kaki cukup terganggu terutama saat bertemu persimpangan dimana saya harus menyeberang. Nyebrang jalan, tengok kiri kanan menjadi menu rutin sepanjang penyebrangan. Hati ini tidak tenang kalau belum menginjak trotoar lagi. Tidak seperti di Indonesia, disini tidak ada standar kalau arah motor atau mobil haruslah selalu dari arah yang disepakati undang-undang.
Kekagokan saya bertambah double ataupun triple saat mengendarai sepeda motor, kali ini di Da Lat, sebuah kota di ketinggian 1.500 meter yang indah, dimana bebungaan liar tumbuh sepanjang jalan, dan mawar merah kuning dan orange menghias garis batas di jalan. Kalau di Saigon saya nyerah deh ga ada nyali buat pakai motor (takut emosi dan nabrak), tapi saya pikir Da Lat ini kan kota yang kecil, so mungkin saya bisa adaptasi lebih baik di tempat yang lebih sepi ini. Jadi saya sewa motor bebek buat jalan-jalan.

Jalan utama di Da Lat: ingat berkendaraan di sebelah kanan yaaa...
Sehubung bekas jajahan Perancis, mengemudi di Vietnam adalah di sebelah kanan, dan untuk menyusul dari sebelah kiri. Sebagai orang Indonesia keadaan ini menyulitkan karena berkebalikan dengan keadaan di sini (Polisi sini berpendapat baiknya adalah naik motor di kiri, kalo mau nyusul dari kanan).
Beberapa kali (biasanya sehabis keluar dari suatu tempat) saya langsung ambil ruas kiri ngikutin kebiasaan di Indonesia. Walhasil, baru sadar waktu akan marah liat orang Vietnam nyetir motornya di kanan. Padahal yang salah adalah saya.
Lah kok kita yang salah lalu mau marah sih ? Itulah kelemahan saya: memang saya gampang marah kalau naik motor sebab beradaptasi dengan kerasnya lalu lintas kalau di Bogor tempat saya dilahirkan (walau ternyata keadaannya tak sekeras disini).
Di negeri yang ramah ini, akibat perbuatan saya, saya cuma dilihat oleh Vietnamese ini – dia tidak marah, dan melihatnya pun cuma sekilas. Perkiraan saya dua: mereka bangsa ramah yang toleran kepada saya, atau karena nyetir salah arah adalah biasa, karena juga dilakukan oleh mereka sendiri dengan caranya masing-masing.
Emosi marah ini sempat juga muncul (sebenarnya bukan marah tapi kesal sedikit) karena masalah bensin. Lah iya, saya menyewa motor satu hari seharga 5 USD dari jam 7 pagi sampai 9 malam, lalu pas ngisi bensin (di Da Lat) oleh si ibu ditagih 60.000 VND (dong) alias 3 USD. Padahal ngisinya bentar banget, kurang dari 2 liter rasanya; satu setengah liter paling banyak.
Mahal banget sih bensinnya, Man? Secara disini itu cuma Rp 4.500 / lt. Dengan Rp 30.000 / 3 USD / 60.000 VND saya bisa isi bensin sekitar 7 liter disini.
Danau Xuan Huong, di tengah kota Da Lat
Merasa ditipu, selama nginep di motel (harga 14 USD / malam, dengan 2 tempat tidur: saya dan istri tercinta) saya selalu browsing internet via BB istri. Cuma dapat kabar di halaman pertama google: Masyarakat Vietnam Shock atas Kenaikan Harga BBM – tidak dapat diteruskan browsingnya karena cuma dapat percikan Wifi dari motel, dan menyebabkan loading BB nya lama banget dan bikin putus asa.
Saya teruskan pencarian itu saat mencapai Indonesia kembali. Penasaran karena cuilan berita yang kurang lengkap tersebut. Dengan bantuan Profesor Google, saya dapati bahwa harga bensin di Vietnam adalah berkisar antara Rp 11.000 sampai Rp 12.000. Amin ucap saya, agak puas.  Jadi kalau saya mengorbankan Rp 30.000 untuk bensin saya pikir semoga waktu itu diisi 2 liter lebihlah ma si ibu bensin.
Pikiran ini ditentang lagi oleh logika saya. Hati mau memaafkan, tapi kepala menentang, sebab kalau dilihat tangki bensin motor yang saya tumpangi kecil. Masa iya tangki motor sekecil itu memuat bensin kira-kira 2,3 liter?
Pikiran saya lalu berusaha agak baik lagi sama sang hati yang berusaha memahami. Pikiran lalu berkata pelan-pelan, katanya: mungkin jenis BBM di Vietnam agak banyak, motor kamu diisi ma bensin kualitas pertamax jadi harganya agak mahal.
Iya ajalah, demi keindahan dataran tinggi Da Lat.
Saya sudah diberikan jasa oleh motor yang saya tumpangi ini selama ngalor ngidul cari-cari titik wisata di Da Lat, sudah sepantasnya ia diberi minuman yang setimpal (sekualitas minuman yoghurt dari Da Lat). Kalau ada lebih, anggaplah sumbangsih saya untuk rakyat Vietnam, setelah peperangan bertahun-tahun yang menyengsarakan serta atas kerajinan dan keuletan mereka (Vietnamese ini rajin-rajin banget dan akan saya ceritakan di story yang lain ya).  
Salam dari atas motor gaul peminum yoghurt. 
 
 http://indras-important.blogspot.com/2013/04/kagok-kagokan-jalan-di-vietnam.html
 

Read Users' Comments (1)comments

Penduduk Vietnam yang Rajin

Boleh miskin, tapi tetap rajin. Begitulah pandangan saya terhadap penduduk Vietnam. Apabila kata miskin kurang cocok dipakai serta perlu diperhalus, bolehlah saya menambahkan kata “agak miskin” disini sebab apabila saya perbandingkan dengan pembangunan di negeri saya, Indonesia maka sarana dan prasarana di negeri saya nampaknya lebih lengkap dan maju.
Saya sudah 2x berkunjung ke Vietnam, pada tahun 2010 dan belum lama ini – April 2013 – semuanya melalui perjalanan ala backpacker. Kalau yang pertama saya hanya travel di kota Saigon (Ho Chi Minh City) saja dan melanjutkan ke Thailand. Yang kedua adalah berkeliling di kota Saigon dengan tambahan pelesir ke kota dataran tinggi Da Lat. Saigon dan Da Lat, dua-duanya mewakili wilayah perkotaan besar dan kecil. Untuk wilayah lain, walau keinginan saya sangat besar untuk bisa stay di wilayah model perkampungan atau pantai namun sampai saat ini belum bisa terwujud karena keterbatasan waktu dan biaya.
Penduduk Vietnam adalah penduduk yang cenderung slim bentuk tubuhnya (jarang yang subur dan berisi, terutama perempuannya). Di mana banyak kaum perempuan berjalan-jalan berpakaian Ao Dai (pakaian perempuan Vietnam) baik di sekolah atau jalan-jalan biasa. Mengenakan caping serta penutup hidung dari kain, serta bersepeda motor atau bersepeda goel. Lainnya yang saya ingat adalah tulisan-tulisan dua sampai tiga kata berisikan kata-kata nguyen, puc, loc, duc, vang, cong thi dan lain-lain yang tidak bisa saya mengerti.
Membuat semacam martabak, di pinggir jalan
Suatu hal yang menonjol, dan apabila saya diminta menggambarkan satu kata tentang masyarakat Vietnam adalah kata rajin. Kalau boleh memilih kata lainnya adalah ulet. Ya, saya harus menggaris bawahi kata rajin dan ulet sebab terpatri dengan kuat di kepala saya.
Mungkin karena bangsa ini baru saja mengalami penderitaan berperang (tahun 1970an), serta kemudian terjadi perpecahan antar bangsa (Vietnam Selatan dan Vietnam Utara), maka bangsa ini sedang dalam keadaan tersadarkan diri untuk membangun negerinya kembali. Saya menegasikannya dengan keadaan penduduk di negeri saya Indonesia yang sudah merdeka sejak tahun 1945 yang sekarang sedang carut marut dan sibuk saling memakan antar sesama. Mungkin kelamaan merdeka membuat sesorang tidak lagi mampu bersyukur dan bekerja keras ya?
Masalah kerajinan ini dicontohkan oleh berbagai hal, yang dapat kita lihat dengan mata dan kepala sendiri. Sepanjang jalan di Vietnam kita  bisa melihat rumah-rumah memasang etalase untuk  jualan di depan rumahnya, baik apakah itu untuk berjualan minuman, roti banh mi, kedai makan kecil-kecilan, sampai menggelar buah-buahan di trotoar. Bangku-bangku dan meja kecil seadanya digelar di depan rumah, dan nampaknya kebiasaan ini merata minimal di Vietnam Selatan.
Si ibu, sambil nunggu jualan dia kadang merajut juga
Lainnya adalah kemampuan Vietnamese untuk memanfaatkan waktu luang: seperti di Da Lat, mereka merajut dan menyulam sambil berjualan. Dari tukang kue, karyawan cable car, penjual baju... semua memegang jarum dan benang wol, tangannya naik turun merajut sambil menunggu pelanggan.
Di malam hari, saat berjalan-jalan saya melihat juga porsi penjual perempuan berimbang dengan kaum laki-laki. Nampaknya secara tidak sengaja kesetaraan gender tumbuh dengan baik di bangsa ini. Mungkin karena faktor keamanan yang lebih terjamin, budaya penghargaan yang tumbuh pada kaum laki-lakinya, serta pengaruh ajaran spiritual, ditambah dengan desakan ekonomi – semuanya menghasilkan kepercayaan diri bagi kaum perempuan untuk memajukan keluarga serta bangsanya.
Kerajinan lukisan kulit telur, dikerjakan oleh kaujm difable
Bukan saya tidak ingin menceritakan kaum laki-laki, namun dengan melihat sepak terjang kaum perempuan maka rasanya pandangan saya terhadap kaum laki-laki juga sudah ter-cover. Kaum laki-laki memang nampak mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tani, buruh dan lain-lain. Tapi begitu juga kaum perempuan.
Di Vietnam yang menarik juga adalah bahwa negara memfasilitasi hak-hak kaum cacat (disable / difable). Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pusat pelatihan bagi mereka untuk misalnya, menghasilkan barang-barang kerajinan: lukisan, ukiran, makanan sampai produk-produk berteknologi . Saya sempat mengunjungi satu pusat pelatihan di pinggiran kota Saigon untuk melihat pembuatan kerajinan lukisan dari kulit telur, painting kayu, kerajinan gantungan kunci, dan lain-lain untuk diekspor keluar negeri (mungkin untuk menambah nilai jual, dan nilai tambahnya dapat dipakai untuk membiayai program-program seperti ini).
Mereka ini, kaum difable diberikan kesempatan untuk berkembang – difasilitasi oleh negaranya yang komunis yang membuat kita bertanya-tanya, bukankah seharusnya negara kita yang kapitalis “demokratis” ini lebih baik (lah pejabat kan suka gembar-gembor kalo negara demokratis Pancasilais ini bermartabat, makmur, kesejahteraannya cukup baik ) ?

Ah jadi males deh kalo ngomongin Pancasilais dan  demokrasi dan sebagainya. Jadi inget neh di Indonesia gerombolan FPI merajalela. Ustad pada ngomong sembarangan di mimbar-mimbar, Rhoma Irama mau jadi presiden, korupsi Hambalang, koruptor pada pasang TV kabel di penjara.

Hadeuuuuhh....

 http://indras-important.blogspot.com/search?updated-max=2013-06-17T21:44:00-07:00&max-results=7

Read Users' Comments (0)

Tips Lihat si Kecil-Kecil di Pantai

Jalan-jalan ke pulau selalu menarik bagi saya sebab saya menyukai kehidupan laut dan pantai. Saya agak mampu mengidentifikasi sebagian flora dan fauna laut tersebut sehubungan mempelajarinya di kuliahan tahunan yang lalu. Bahkan pernah juga karena saya waktu SMA keranjingan baca buku pengetahuan, saat ujian ikhtiologi di kuliahan, dimana ada pertanyaan mengenai jenis-jenis ikan beserta nama Inggris, lokal dan Indonesianya, nilai saya berubah jadi A dari seharusnya C, karena bagian bonus yang bobotnya amat tinggi tentang pertanyaan jenis-jenis ikan tersebut dapat saya jawab dengan mudahnya (bangga, sebab hobi saya jalan ke pasar dan bergaul dengan tukang ikan hias berbuah manis jadinya).
Namun di pulau seringkali hal-hal menarik terlewatkan karena ketidaktahuan kita. Pantai yang luas sering dipandang hanya sebagai pantai yang kering dan berpasir. Warna pasirnya hitam, coklat atau putih. Itu saja. Padahal tidak begitu.
Paling mudah untuk melihat makhluk laut adalah dengan mengambil sebongkah karang mati, ataupun tanaman laut (rumput laut atau algae) , membiarkannya pada stoples bening berisi air laut dan menunggu beberapa menit sampai para penghuninya menampakkan diri. Percaya atau tidak, tak lama kemudian para penghuninya akan keluar: dari cacing-cacingan, udang, siput, sampai mungkin ikan kecil yang tadinya nyumput di rongga karang.
Kalau lupa bawa stoples bening, kita bisa pakai botol bekas aqua ataupun pinjam gelas belimbing dari warung kopi.
Kehidupan laut juga menarik di waktu yang berbeda: pagi siang sore malam. Contohnya ubur-ubur, akan bertambah banyak di waktu lebih gelap dan mereka akan lebih mendekat ke arah permukaan air untuk mengejar plankton makanannya. Pagi dan malam adalah waktu yang tepat untuk melihatnya berkelap-kelip indah.
Di siang hari, mereka masih dapat dilihat apabila kita jeli, menyelam sambil menggunakan masker dengan memfokuskan pandangan jarak dekat (misal membayangkan ada jari sejauh 50 cm dari mata kita).
Teman-teman saya biasanya suka heran karena saya dapat menjumpai banyak binatang ini, sedangkan mereka mengaku tidak menjumpainya dimana-mana.
Pasir juga dapat kita gali. Di pantai berterumbu karang, pada jarak 1 meter dari batas air pasang bila kita gali pasirnya, kita mungkin menjumpai kerang-kerangan yang mengubur diri di bawah pasir.
Jadi pantai bukan hanya sunset dan sunrise. Mari belajar pantai dari yang aslinya... Kita bisa kok melihat makhluk-makhluk yang ada di National Geographic channel dari mata kita sendiri.  
 
 http://indras-important.blogspot.com/2013/06/tips-lihat-si-kecil-kecil-di-pantai.html
 

Read Users' Comments (0)

Angkutan di Pa Tong Beach, Phuket

Saat saya berada di Phuket, kami pergi mengunjungi pantai-pantainya. Salah satunya adalah Pa Tong Beach.
Sebelum pergi kami sudah mendapatkan informasi bahwa setelah pukul 17.00 maka tidak ada lagi angkutan umum dari pantai menuju kota.
Jam 16.00 kami bersiap-siap pulang, dan 16.15 kami sudah siap di pinggir jalan. Angkutan umum masih ada jadi kami menunggu sampai ada yang siap-siap berangkat untuk segera ditumpangi. Herannya setelah sekitar 10 menit menunggu, tidak ada yang bergerak, dan baru kami tahu setelah bertanya bahwa sejak pukul 16.00 angkutan sudah off.
Lah... kok jadi maju 1 jam ya dari jadwal?  Jadi kami tertipu saat melihat angkutan yang sedang ngetem, yang awalnya kami kira kalau mereka akan segera berangkat; namun ternyata mereka sedang siap-siap mematikan mesin.
Strategi ini cukup aneh, karena sebenarnya mereka masih mau pergi ke kota kalau disewa seluruh mobilnya yang tentunya jauh lebih mahal daripada bayar biasa. Jebakan batman kata orang kampung saya sih.
Setelah 30 menit menunggu, berharap kalau saja ada angkutan yang masih narik penumpang secara normal kami menyerah. Rupanya kesepakatan ini berlaku secara masal untuk seluruh sopir angkutan, dan sepertinya banyak turis yang terjebak seperti kami. Lalu lalang bingung di pinggir jalan.
Yang sama-sama ditinggal ma angkot di Pa Tong
Hasil akhir adalah kami patungan untuk naik angkutan: 2 turis bule, 3 turis sewarna, 1 orang turis Jepang hasil lobi sana-sini. Tentunya dengan ongkos berlipat dari biasa.
Moral dari cerita ini adalah hati-hati terhadap informasi internet yang sering tidak up to date walau baru diposting 2 bulan lalu, dan jadilah orang yang agak kaya agar kejadian seperti ini tidak terlalu menjadi beban bagi Anda. Kasihan kami contohnya yang lalu hanya bisa beli nasi putih saja dan ayam goreng jalanan, di dua tempat terpisah dengan tujuan penghematan dana kolektif sehubungan kejadian ini.
 http://indras-important.blogspot.com/2013/06/angkutan-di-pa-tong-beach.html

Read Users' Comments (0)

Jam Tangan yamg Berharga

Mengapa saya jadi pakai jam tangan kalau sedang bepergian sekarang? Itu ada alasannya. Beginilah kira-kira.

Dulu saya menganggap bawa HP saja cukup saat jalan-jalan, karena ada jamnya toh? Nah pernah suatu saat saya sedang jalan-jalan di Ca Dai Temple di sekitar Saigon (Ho Chi Minh) anggapan saya terbukti salah.

Di dalam kuil Cao Dai
Jalan-jalan ke Cao Dai Temple (unik, sebab ada beberapa agama besar di situ yang dibungkus jadi satu kepercayaan baru) saya mengikuti tur seharga 7 USD (plus tur ke Cu Chi tunnel markas gerilyawan Viet Cong dulu – exclude tiket masuk). Mudah, murah juga (apalagi kalau setelah sampai Cu Chi tunnel tidak jadi masuk dan cuma nongkrong di dekat loket karcis).

Anyway, pemandu wisata yang bekas guru bahasa Inggris menerangkan tentang keunikan agama Cao Dai tersebut, termasuk berapa lama waktu berkunjungnya.

Setelah sampai dan lama berputar-putar, serta melihat upacara dan permainan musik di dalam kuil, saya cek waktu melalui HP saya. Eh ternyata HP itu tertinggal di hostel (terbawa kebiasaan meninggalkan barang tersebut di ransel pakaian sebab sering tidak diaktifkan kalau pergi keluar negeri, takut kena rooming).

Saya lalu berpanduan kepada jam tangan yang dipakai oleh turis bule sekitar. Sebentar-sebentar saya lihat dan karena upacara keagamaannya belum selesai dan masih banyak kelompok turis berkeliaran saya tenang-tenang saja.

Beberapa selang kemudian sekitar 15 menit dari akhir bertemu, dengan muka masam dan marah munculah teman saya. Ternyata saya sudah mau ditinggal bis tur dan ia menyusul saya balik di kuil dengan tergesa-gesa. Untunglah ia tak lama marah kepada saya karena memang orangnya baik kok.

Saya balik ke bis dan dipelototin si pemandu dan para turis lain yang kesal menunggu saya.

Jadi selanjutnya, dalam perjalanan saya selalu pakai jam tangan. Dari jam tangan karet anak-anak, digital, sampai yang termutakhir Swiss Watch – semua jadi kewajiban kalau sedang berjalan sebab saya tetap memilih mematikan HP saat berjalan (kecuali di tahun-tahun akhir setelah lebih sering membeli kartu SIM lokal untuk melakukan SMS ke rumah, dan dimana provider mobile phone lebih ramah karena meniadakan rooming).

Dan jangan lupa, jam tangan yang dipakai tetangga belum tentu benar penunjukkan waktunya. Mungkin saja dimajukan 15 menit supaya bisa bangun lebih pagi. Time is important in a scheduled tour.

http://indras-important.blogspot.com/2013/06/jam-tangan-yang-berharga.html

Read Users' Comments (0)

Tentang Booking Hostel Kalau Bacpackeran

Hostel yang mendapatkan peringkat yang baik belum tentu aman dan memuaskan pelayanannya. Pengalaman ini adalah berdasarkan pengalaman saya mengunjungi hostel di Ho Chi Minh City (HCMC).

Hostel, Bar dan Makanan di sekitar Jalan Pham Ngu Lao, Ho Chi Minh
Hotel bernama My My Arthouse ini terletak di Pham Ngu Lao street, jalan no 219 (di dalam jalan no 219 ini banyak terkumpul hostel-hostel lainnya). Saya melakukan booking di hostelworld seminggu sebelumnya dan semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Malah balasan email yang saya terima sangat infomatif walau bukan jawaban secara pribadi karena nampaknya hasil copy paste untuk turis lain. Tapi untuk upaya ini, saya menganggap rating pelayanan yang diberikan via hostelworld tidak salah.

Saya datang malam hari sekitar jam 10 dengan memberikan kabar sebelumnya dan pemilik hostel menjawab kesediaannya untuk tetap membuka pintu hostelnya (ternyata hostel di daerah ini buka 24 jam walau memberikan info hanya buka sampai jam tertentu – nampaknya berkaitan dengan persaingan bisnis yang ketat dengan hostel lain).

Yang saya prihatinkan adalah apa yang terjadi kepada turis lain dari Malaysia. Mereka datang lebih malam daripada saya, dan malangnya kamar mereka masih terisi oleh orang lain. Pemilik hotel mencarikan kamar lain, dan rupanya karena sudah lelah si turis Malaysia angkat barang saja dan setelah naik 3 lantai membawa carrier berat, keempat-empatnya turun lagi. Sambil marah-marah mereka protes karena kamar yang diberikan dibawah standard. Mungkin terlalu kecil dan tidak ber AC.

Salah satu hotel yang saya tempati, nyaman dan bersih
Si ibu yang tidak bahasa Inggris disemprot. Memang benar, yang selama ini berkomunikasi dengan email berbahasa Inggris dengan si turis adalah anaknya, si Hanh. Kasihan juga melihat ibu tua ini disemprot, dan kasihan juga melihat para turis Malaysia ini terlantar malam-malam. Si anak pemilik hostel (Hanh) ditelpon, dan sialnya tidak ada jawaban karena setelah dicari, HPnya ditemukan tertinggal di dekat meja resepsionis.

Yes... shit happened sometimes (buat si Hanh, ibunya dan para turis yang sudah kecapean itu).

Saya ingin menerangkan, kalau sistem pemesanan hostel kebanyakan adalah sistem tradisional. Jadi jika kita sudah melakukan booking, apabila tamu sebelumnya di kamar kita belum keluar maka booking kita pasti dipindahkan ke kamar lain, atau makin malang nasib kita kalau tidak ada kamar kosong sama sekali, bisa terlantar kalau sedang ada di wilayah sepi hostel.


Murah... hostel seharga 6 USD semalam (model dormitory)
Pada hostel tertentu mereka menyediakan kamar khusus untuk kejadian-kejadian seperti ini. Tapi tidak semua hostel punya sistem buffer yang baik.

Jadi saran saya adalah, datanglah (kalau bisa) pada hari yang tidak terlalu malam agar tidak terlalu letih. Kedua, apabila pihak hostel tidak bisa segera memberikan jaminan kamar segeralah cari hostel lain – jangan buang waktu misalnya dengan menunggu, menaruh barang dan jalan-jalan dulu sebab bisa saja saat kita kembali dan lelah ternyata kamar hostel belum juga tersedia. Ketiga, kalau mau menengok kamar lain, letakkan carrier berat di lantai bawah. Kalau sudah yakin, baru bawa carriernya ke atas.

Lain-lainnya, adalah (ini saran umum saja): bawa bukti booking, tanyakan alamat dengan jelas via email. Pilih taksi (kalau tidak ada bis) yang terpercaya saja (cek lewat cerita para turis). Sediakan uang kecil (kebanyakan supir taksi tidak akan mengembalikan uang kembalian yang agak kecil). Cari alamat hostel cadangan yang dekat dengan hostel pilihan pertama (kalau-kalau hostel pertama jorok dan bau).

http://indras-important.blogspot.com/2013/06/saran-booking-hostel-kalau-bacpackeran.html

Read Users' Comments (0)

Bromo Tengger - Lukisan Sang Pencipta

Lautan pasir terhampar sejauh mata memandang, gunung menjulang menggapai batas langit, hawa sejuk menelusup hingga tulang, eloknya lukisan Sang Pencipta...

Salah satu kawasan wisata yang wajib dikunjungi bagi para pelancong adalah Bromo. Kawasan ini termasuk ke dalam taman nasional Bromo Tengger Semeru. Bromo adalah sebuah gunung vulkanik yang masih aktif dan sudah mengalami beberapa kali letusan. Kawahnya yang menganga lebar menjadi bukti fenomena alam tersebut, mengerikan sekaligus mengagumkan. Sedangkan Tengger adalah nama masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan ini, sebagian besar orang Tengger menganut agama Hindu. Semeru merupakan salah satu rangkaian pegunungan yang berada di Jawa Timur dan merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang sering dijadikan sebagai tempat pendakian.
Banyak tujuan yang bisa dikunjungi di kawasan ini. Mulai dari berburu sunset di Pananjakan, mendaki kawah Bromo, menikmati hamparan lautan pasir, memanjakan mata dengan indahnya padang rumput, bermain air di Ranu Kumbolo atau air terjun Madakaripura, dan tentunya menghirup udara segar dan merasakan jernihnya air pegunungan yang super dingin.

Sunrise di Pananjakan
Untuk menggejar sunset tentunya butuh sedikit pengorbanan untuk bangun lebih pagi (sekitar jam 4), kalau terlambat sedikit saja maka perjalanan menuju Pananjakan akan macet oleh jeep-jeep pengunjung lain ataupun orang yang juga memburu sang mentari, keramaian akan bertambah kalau sedang musim libur. Sekitar jam 6 pagi matahari mulai muncul perlahan di balik pegunungan (jangan lupa berdoa agar cuaca tidak mendung).
Kendaraan andalan untuk menaklukan medan lautan pasir Bromo adalah jeep. Harganya cukup mahal, butuh keahlian menawar jika ingin  mendapatkan diskon (walaupun sebenarnya sudah ada harga yang ditentukan oleh paguyuban pengelola wisata disana). Alternatif lain kendaraan yang bisa digunakan adalah naik motor/ojek, pilihan ini lebih dianjurkan jika kita solo backpacker atau dalam rombongan kecil. Lebih murah dan fleksibel, bisa minta diantar ke berbagai spot-spot menarik lainnya. Jangan lupa menggunakan masker jika akan menggunakan motor karena debunya cukup mengganggu. Pada saat di lokasi, banyak juga pengunjung dari dalam kota dan sekitarnya seperti Surabaya, Malang, atau lainnya yang menggunakan motor untuk menjelajahi lautan pasir di sekitar kawasan.

Ratusan anak tangga

Setelah menikmati sunrise, jeep sudah menunggu untuk melakukan perjalan selanjutnya menuju kawah Bromo. Perjalanan menuju kawah start dari parkiran jeep, jika tidak ingin cape bisa juga naik kuda masyarakat yang disewakan hingga titik sebelum naik tangga menuju kawah. Kabar baik bagi para non-pendaki gunung, di Bromo Anda bisa mencapai kawah gunung dengan melewati anak tangga yang miring dan curam serta penuh dengan pengunjung sehingga terjadilah antrian panjang. Bagi Anda yang tidak 'sabaran' (seperti saya), ilmu salip menyalip juga bisa digunakan. Jalur di setiap sisi di luar tangga bisa digunakan untuk mendaki namun tanpa anak tangga, hanya pasir yang cukup dalam jika diinjak, seperti main ski di pasir :D
Gunung Batok
Sepanjang perjalanan menuju kawah Bromo, mata akan dimanjakan oleh panorama alam yang begitu indah dan menakjubkan. Gunung Batok berada tepat di sisi Bromo, berdampingan. Bentuknya mengerucut sempurna tapi tumpul di bagian ujungnya. Di belakangnya terlihat puncak gunung Semeru yang menjulang tinggi meski jaraknya cukup jauh dari kawasan Bromo.


Beautiful Pura
Dataran lautan pasir yang mengelilingi kawasan Bromo terlihat kontras dengan adanya Pura yang berbentuk kotak persegi tidak jauh dari kawasan parkir jeep. tempat ini hanya dibuka jika ada acara keagamaan dan penziarah yang berasal dari Bali. Penziarah menyakini bahwa nenek moyang mereka merupakan keturunan suku Tengger sehingga mereka berkewajiban untuk melakukan sembahyang di Pura tersebut.

How to get there:
Jalur Surabaya >> Jakarta - Surabaya  (kereta ekonomi 16 jam)- Bungur Asih (bus kota 1 jam)- Probolinggo (bus kota 2 jam)- Cemoro Lawang (Bison/Elf 1 jam) -- jalaur yang saya gunakan
Jalur Malang >> Jakarta - Malang (kereta)- Arjosari (?)- Bromo (dengan jeep dengan harga yang cukup mahal)

Transportation and Akomodasi:
Kereta ekonomi JKT-SBY >> 40 k
SBY-Bungur Asih >> 4 k
Bungur asih-Probolinggo >> 23 k
Probolinggo-Cemoro Lawang >> 25 k (nunggu rombongan penuh)
Guest house (7 org) + makan 2 kali >> 85 k/org
Sewa jeep (7 org) >> 145 k (Pananjakan dan kawah Bromo)
Sewa ojek >> 100 k ( savana dan pasir berbisik)

Note:
*belum termasuk pengeluaran pribadi dan makan/ngemil selama perjalanan
*jangan lupa makan bakso Bromo yang cukup menghangatkan badan dengan harga cukup murah (7k)





Read Users' Comments (1)comments

Pulau Pari ala Ransel

Time to camping ceriaaa....

the blue swing
Setelah sekian lama ingin menghirup udara segar karena sumpek aktivitas rutin, finally saya berhasil mengajak "partner in crime" untuk camping di alam terbuka. Dari sekian banyak tempat, gunung atau pantai akhirnya kami memutuskan jalan ke Pulau Tidung karena saya amat suka pantai dan tempatnya cukup terjangkau dengan budget yang minim. Setelah gugling kesana-kemari akhirnya beberapa info mengenai transport dan akomodasi bisa menjadi acuan. Berhubung travelingnya ala backpacker, jadi tenda dan teman-temanya harus dipersiapkan.

Hari pertama #1
Saya berangkat kereta paling pagi dari Bogor jam 5.30 dan sekitar dua jam kemudian sampai di stasiun Kota. Keluar dari stasiun trus berjalan ke arah shelter busway dan menyebrang jalan. Metromini 02 arah Muara Karang (warna  biru) yang akan menuju pelabuhan sudah menunggu di depan bank mandiri (dekat shelter busway). Perjalanan sekitar 10 menit kemudian dilanjutkan naik angkot merah 01  jurusan grogol-muara angke sampai terminal ujung. Untuk menuju pelabuhan bisa berjalan sekitar 5-10 menit atau naik odong-odong (sejenis becak motor), kami memilih berjalan karena jalan macet tapi konsekuensinya jalanan becek dan bau amis ikan yang sangat menyengat sepanjang jalan. Ketika tiba di pelabuhan sudah banyak penumpang lain yang akan menyebrang juga, crowded dan bingung karena tidak ada penunjuk arah atau informasi untuk setiap tujuan kapal.

Semua orang sibuk dengan rombongannya masing-masing, saya akhirnya bertanya ke abang-abang yang lagi nangkring di kapal. Kapal yang paling dekat dengan gerbang pelabuhan tujuannya ke Pulau Pramuka kemudian jajaran kapal di sebelahnya tujuannya ke Pulau Kelapa. Sedangkan kapal untuk ke Pulau Tidung terhalang oleh kapal yang bersandar  sehingga harus desak-desakan berjalan diantara kapal-kapal yang lainnya. Tiba-tiba ada yang berteriak "kapal ke Tidung habis...sudah full semua..." Jiahhh...sudah bela-belain berangkat subuh-subuh tetep aja ga kebagian kapal :( Daripada nunggu lama-lama kapal selanjutnya akhirnya kami naik kapal yang paling dekat dari posisi kami menunggu, kapal itu menuju Pulau Pari. Penasaran dan deg-deg'an pas kapal akhirnya melaju menjauhi pelabuhan muara angke. Kami sama sekali tidak tau informasi tentang pulau itu, tapi enjoy aja lah ya...Sekitar dua jam kapal berlabuh di Pulau Pari, dermaganya kecil airnya biru hijau dan bersih tanpa sampah :)

overload passanger
Karena kami sama sekali buta informasi akhirnya sambil istirahat ngeliatin rombongan lain yang sibuk bergerombol menuju homestay masing-masing. Setelah nanya-nanya akhirnya kami mendapatkan informasi kalau area camping ada di area Pantai Perawan yang menjadi spot andalan pulau ini. Kemudian kami berjalan membelah pulau, melewati sekolah, pemukimam penduduk yang berjejer rapi dan bersih. Sekitar 10 menit kami sampai di pantai perawan dan membayar tiket untuk camping. Setelah menemukan tempat yang enak buat leyeh-leyeh akhirnya kami membentangkan hemock dan istirahat sambil ngobrol-ngobrol dengan orang pulau, salah satunya Bp. Buyat. Banyak cerita dan gambaran mengenai pulau yang indah ini dari mereka. Pulau Pari mulai terbuka untuk wisata sekitar 2 tahun yang lalu, sebelumnya masyarakat adalah nelayan dan pembudidaya rumput laut. Namun, karena laut yang semakin tercemar sehingga ikan berkurang dan rumput laut tidak bisa tumbuh lagi, maka masyarakat berinisiatif untuk melakukan promosi wisata pulau. Kebanyakan pengunjung yang datang adalah rombongan paket tour, jarang pengunjung yang datang secara individual atau backpacker seperti yang kami lakukan.

snorkling in the evening
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Pa Buyat, kegiatan snorkeling biasanya dilakukan di pulau tetangga yaitu pulau tikus atau bisa juga di area sekitar pulau tanpa harus menyebrang. Akhirnya pada sore hari kami menyewa sampan untuk ber'snorking di sekitar pulau saja. Sebenarnya, ikan-ikan yang ada di sekitar area pulau cukup banyak tapi kondisi terumbu karangnya biasa saja, kebanyakan berwarna pucat dengan keanekaragaman yang rendah tapi lumayan lah...Ketika hari mulai gelap kami segera berkemas untuk mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda. Malam itu ada rombongan yang akan mengadakan acara di pantai perawan, sehingga pasti akan bising sekali dengan adanya speaker di dekat warung sekitar pantai. Sungguh sangat disayangkan moment untuk menikmati indahnya pulau sedikit terganggu oleh suara musik dari speaker tersebut.

Hari kedua #2
Pagi-pagi di luar tenda sudah ramai pengunjung yang mengabadikan 'sun rise'. Menikmati pagi dengan secangkir kopi dengan pemandangan hamparan laut biru dan pasir putih itu sangat menyenangkan dan menyegarkan. Sekitar jam 9 pagi kami sudah packing dan siap-siap kembali ke dermaga pelabuhan menunggu kapal yang akan membawa kami kembali. Sekitar jam 11 siang kapal jemputan sudah datang dan langsung diserbu pengunjung yang akan kembali ke daratan. Kapal berangkat satu jam sesudahnya dan sampai di pelabuhan muara angke sekitar jam 2 siang. 

Note:
#Berhubung kami jalan ala bacpaker maka semua bekal/logistik kami bawa dan dimasak sendiri sedangkan berdasarkan informasi penduduk menyediakan paket prasmanan jika pesan terlebih dahulu. Harga makanan di warung cukup 'normal' untuk area wisata.
#Kapal penyebrangan reguler kebanyakan masuk ke paket wisata jadi penumpang yang ga ikut paket bayar langsung ke awak kapalnya atau beli tiket di pelabuhan (dengan asuransi).

it's tedong-tedong
How to get there and the cost (PP):
* Bogor-Kota >> 4000 (kereta ekonomi)
* Kota-Muara Karang >> 4000 (metromini)
* M. Karang-Muara Angke >> 4000 (angkot merah 01)
* M. Angke-Pelabuhan >> 4000 (odong-odong) kalau jalan juga deket
* Pelabuhan-Pulau Pari >> 60000 (kapal kayu), 64000 (pakai asuransi), 52000 (kapal kerapu) penumpang terbatas dan pelabuhan terpisah
* Tiket pantai perawan >> 10000
* Sewa alat snorkeling >> 30000 
*Sewa satu sampan >> 50000 (sekitar 2 jam, bisa lebih tergantung nego)

Read Users' Comments (0)

Sego Empal "Makyusss"

Jika berkesempatan mengunjungi kota Yogyakarta dan ingin menikmati kuliner ala backpacker'an (murah meriah) maka sego empal ini tidak boleh dilewatkan. Harganya yang terjangkau sekitar 12ribu/porsi dengan kulitas rasa yang tidak kalah dengan resto membuat sego empal ini isttimewa. Satu porsi sego empal ini terdiri dari nasi, empal atau lauk lainnya, lalapan mentah dan tentunya sambel korek yang super pedas memanjakan  lidah, apalagi jika ditambah sayur asem-asem tambah maknyuss. 
Daging empal yang empuk dengan cita rasa khas ditambah dengan sambel yang pedas, nasi putih yang masih mengepul dan sayur asem-asem yang tentu saja asam membuat kombinasi yang cukup ajaib untuk membuat mulut ini terus mengunyah hingga suapan terakhir tanpa terasa.
Lokasi sego empal ini berada di pasar Bringharjo lantai 2. Karena belum mengenal medan Bringharjo yang cukup luas maka cukup sulit juga menemukan tempat makan ini, cara ampuh untuk cepat mengetahui tempatnya ya bertanya :D
Ketika menemukan lokasi sego empal 'Bu Warno' tidak seperti yang saya bayangkan (ngebayangin tempat makan dengan interior kafe atau resto). Tempat makan ini sangat sederhana, sebuah kios dengan luas sekitar 2x3 meter, terdapat 2 bangku panjang dan meja untuk sajian. So, jika berburu batik di Bringharjo jangan lupa singgah untuk menikmati kuliner ini.

Read Users' Comments (2)

JELAJAH SUMATERA : The Amazing Toba

“Semilir angin di atas ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut disertai gerimis dengan panorama pegunungan yang memanjakan mata, mengawali perjalanan di tanah batak…”

Danau Toba terletak di Prapat, Sumatera Utara. Perjalanan bisa ditempuh selama kurang lebih 5 jam dari kota Medan. Cukup melelahkan memang, tapi semuanya terganti dengan seketika di saat mata dimanjakan oleh panorama pegunungan yang menakjubkan. Udara segar khas pegunungan yang lumayan dingin menjadi salah satu nilai plus bagi saya yang selama ini berkecimpung di tempat yang cukup panas (dataran rendah).


Tempat yang wajib dikunjungi adalah Pulau Samosir yang berada di tengah-tengah danau Toba. Banyak tempat yang bisa dikunjungi di Pulau Samosir salah satunya adalah Desa Tomok. Terdapat beberapa point cukup menarik dan saying jika dilewatkan.

Si Gale-Gale Show
Pertunjukan boneka kayu yang memperagakan tarian khas batak berdurasi sekitar 10 menit. Patung kayu tersebut bernama Si Gale-gale. Pertunjukan ini disaksikan oleh pengunjung yang dibatasi jumlahnya dengan syarat setiap pertunjukan dihargai sebesar 80 ribu rupiah (patungan pengunjung). Setelah pertunjukan pengunjung boleh berfoto dengan Si Gale-gale dengan imbalan sumbangan seikhlasnya.


Makam Leluhur Desa Tomok
Makam ini terletak dikawasan wisata budaya Desa Tomok. Makam tersebut merupakan nenek moyang salah satu marga batak yang merupaka penghuni asli Pulau Samosir. Terdapat beberapa generasi yang dimakamkan di tempat tersebut. Makam yang paling tua merupakan leluhur masyarakat Samosir yang masih menganut animism dan dinamisme. Generasi selanjutnya yang dikuburkan disana adalah keturunan raja dan tokoh agama yang menyebarkan agama kristiani di daerah tersebut. Hal yang wajib dilakukan sebelum masuk areal makam adalah menggunakan kain ulos yang dipinjamkan oleh petugas penjaga makam tersebut. Masuk ke areal makam ini free alias gratis hanya dipungut sumbangan tanpa tarif tertentu.


Monumen Sejarah Suku Batak
Monumen ini terdapat di pelabuhan yang mudah dijangkau oleh setiap pengunjung. Terdapat gambar pahatan leluhur 5 marga batak yaitu: Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Toba, Batak Pahpak, dan Batak Mandailing.

Museum Batak
Museum ini merupakan salah satu museum yang cukup unik karena berada persis di loteng rumah adat kepala desa. Pengunjung dengan bebas keluar masuk museum tanpa pengawasan ataupun guide yang biasanya mendampingi. Terdapat bagian kerajian patung kayu yang dijual tapi lagi-lagi tanpa penjual hanya ada tulisan “for sale”. Hebat sekali masyarakat Tomok ini, mereka benar-benar tidak merasa khawatir jika ada pengunjung yang misalnya mencuri atau membawa salah satu pajangan di museum tersebut.



How To Get There

Cukup banyak alat transportasi yang bisa digunakan untuk mencapai Danau Toba. Dari berbagai tujuan menuju kota Medan, bisa melalui pesawat atau darat dengan bus-bus jurusan Sumatera.
• Medan-Prapat bisa naik travel (60-80rb) atau naik bus umum “Sejahtera” AC maupun non AC dari terminal Amplas, Medan ke terminal Ajibata (25-30rb). Perjalanan naik travel 4-5 jam sedangkan naik bus 6-7 jam
• Dari Prapat (pinggir danau Toba) menuju ke desa Tomok naik kapal penyebrangan (7-12rb) yang jadwalnya setiap 1 jam sekali mulai dari jam 9 pagi sampai jam 7 malam
• Alat transportasi di sekitar Prapat ada angkot atau oplet (2rb)


Akomodasi penginapan bisa dengan mudah ditemukan dengan berbagai variasi harga, mulai dari 100rb hingga jutaan (sekelas hotel berbintang). Makanan bisa diperoleh di warung makan atau restoran terdekat. Tempat makan di daerah ini secara garis besar terbagi menjadi rumah makan muslim dan rumak makan khas batak. Makanan khasnya berupa ikan asli dari danau yang dimasak atau dibakar. Sebagai info tambahan, berhubung di daerah ini mayoritas masyarakatnya kristiani sehingga sangat sulit mencari mushola (bagi muslim) terutama di Pulau Samosir, jadi sebaiknya dipersiapkan di penginapan atau bisa juga menumpang di tempat makan muslim.


Horas! Horas! Horas!

Read Users' Comments (1)comments

Cicip Gudeg di Stasiun Gondangdia

Di hari kerja para pekerja kantoran, kerah abu-abu sampai yang berdasi dalam keterburuannya menyempatkan diri mampir di kotak Gudeg Bu Tina, di Stasiun Gondangdia. Semoga setelah Puasa ini , gurih dan manisnya gudeg Bu Tina bisa mampir kembali ke lidah kita.

Dari kecuekan saya, dan kadang malu-malu kalau makan di Stasiun (lah kadang-kadang kita suka malu-malu ga jelas gitu kan?), akhirnya rasa penasaranlah yang menang. Saya menyukai gudeg, dan di Stasiun Gondangdia terletaklah sebuah kotak sederhana yang menjual gudeg, tempe tahu bacem, ayam goreng, opor, krecek etc etc.

Kenapa saya sebut kotak? Lah disebut warung sepertinya ga mirip warung. Kios juga tidak cocok, apalagi restoran. Hanya gabungan etalase, meja dan bangku sederhana yang membentuk huruf U dengan si mbok dan si mas yang sibuk mencampur gudeg sesuai selera pembeli, dan lalu lalang mengantar piring, gelas teh serta membereskan sisa piring.

Si Mbok dan Mas inilah para pahlawan bangsa bagi saya kalau sedang menuju kantor di MH Thamrin, di kala pagi hari saat perut minta jatah, gurihnya gudeg mampu memberikan arti kata rasa enak kepada otak yang kadang bebal tidak mau menerima makanan lain, padahal jelas-jelas kata artikel ilmiah kalau tidak makan pagi IQ bisa merosot sampai belasan point (telmi, dan peringatan keras bagi yang mau tes psikologi di perusahaan).

Sepiring gudeg, krecek, tahu, telur, berwarna coklat, sedikit kacang dan nasi hangat plus teh dihargai Rp 8000,-. Worthedlah daripada saya beli makanan Amerika McD yang selain rasanya menurut saya kaya makan lemak goreng juga tidak bersahabat dengan para petani dan lingkungan (baca dong tentang McD di internet ya bagi yang belum tahu).

Masalah harga, disini tinggal hitung sendiri saja kalau mau ditambah tempe, tahu bacem (Rp 1500), plus ayam goreng / opor (paha, dada- Rp 5000 - 8000?) atau es teh manis (Rp 2500)... Puas memang dengan para asesoris gudeg disini. Apapun ada.

Saya biasanya memilih paket Rp 8000 saja (nasi gudeg, telur, krecek, tahu) karena kalau ditambah ayam, membersihkan tangan akan kurang bersih (Bu Tina tidak menyediakan air kobokan karena sepertinya doi sibuk banget, dan mungkin karena sumber airnya jauh juga ya..?). Makan gudeg plus-plus hanya saya lakukan siang hari biasanya jikalau sedang santai dan sehabis menyelesaikan pekerjaan, jadi bisa sambil cuci tangan dengan nyaman (beruntunglah yang bisa memakai sendok dan garpu saat memakan opor ayam).

Yang istimewa pada Gudeg Bu Tina selain kelengkapannya (well, top lah lengkap banget), semua masakannya juga disiapkan sungguh-sungguh. Maksudnya adalah bumbu meresap di gudeg, telur, krecek, ayam dan lain-lain tidak seperti gudeg asal-asalan yang rasanya encer dan asal cemplung di panci. Untuk rasa, berdasarkan pengalaman pergudegan, rasa manisnya sedang, sedang gurihnya pas. Tidak salah kalau para pekerja di pagi hari berbondong-bondong berkumpul atau membungkus gudeg untuk disantap di siang hari. Satu orang membeli 8 bungkus ya masih dalam tahapan wajar kayanya kalau disini.

Jangan lupa kalau mau kesini, datanglah sebelum pukul 2 siang. Sebab dikala mendekati senja sudah dapat dipastikan gudeg Bu Tina habis. Hiburan bagi lidah diluar kota Yogyakarta.

Get There
Ke Stasiun Gondangdia? Paling gampang ya pakai kereta api, ekonomi cuma Rp 2.500,- dari Bogor (siapa tahu Om dan Tante dititip ma anak, cucu atau istri). Kalau pakai jalur bussway dari Kota atau Blok-M tinggal turun di Sarinah, lalu ngojek ke Stasiun Gondangdia (Rp 5000,-), atau jalan kaki 10 menit [Indra NH].

Read Users' Comments (1)comments

Melarikan Diri di Hari Kerja : Kebun Teh Gunung Mas!

Apakah pernah terpikir oleh Anda mengerjakan pekerjaan kantor Anda di tengah hamparan kebun teh, di tengah restoran sambil dihembus kabut dingin? Mengapa tidak, kebun teh Gunung Mas hanya berjarak 1 jam 15 menit perjalanan dari Bogor..!

Bermula dari perasaan bosan saya mengerjakan pekerjaan di kantor, saya berinisiatif untuk meminta ijin kepada atasan untuk membawa pekerjaan saya keluar kantor, dengan tujuan untuk menyelesaikannya diluar. Beruntung, kantor saya tidak menerapkan sistem ketat mengenai waktu dan lokasi kerja. Selama pekerjaan dapat diselesaikan, staf dapat memilih waktu kerjanya tersendiri. Untuk hal-hal penting, keberadaan di kantor memang wajib, namun lainnya tidak.

Pagi-pagi, saya menyiapkan termos berisi air panas, gelas, instan jahe, kopi dan lain-lain. Tujuan saya adalah perkebunan teh Gunung Mas, yang terletak di Kawasan Tugu, Puncak, yang berketinggian 1200-1500 meter dpl.

Walau bulan Juli ini aneh, hujan selalu dimana-mana (wah, perubahan iklim memang sangat terasa saat ini) namun saya memutuskan tetap pergi, hujan ataupun tidak. Sekali niat jalan-jalan, niat harus selalu dipegang – begitu pikir saya, sama seperti petani yang tetap menggarap lahan walau hujan turun (lah petani kan kerjanya lebih berat daripada kita yang cuma jalan-jalan?)

Jadi dengan naik angkot berangkatlah saya. Hujan turun berkali-kali saat perjalanan yang namun selalu berhenti saat saya berpindah transportasi, sehingga sampailah akhirnya di Desa Tugu, Puncak. Desa Tugu berbatasan langsung dengan areal kebun teh. Di sebelah kiri adalah perkebunan Ciliwung (karena dilewati Sungai Ciliwung yang masih kecil dan jernih) sedangkan perkebunan Gunung Mas terletak di sebelah kanan jalan.

Pintu masuk resmi Gunung Mas terletak menjorok ke dalam dan ditandai dengan ucapan selamat datang besar, sedangkan jalur masuk pemetik teh terletak dimana-mana di pinggir kebun berupa jalan setapak. Jalur pemetik teh terdekat dari perhentian angkot di Tugu terletak sepelemparan batu di pinggir jalan, dibatasi dengan portal penghalang mobil.

Warung penjaja makanan dan souvenir
Jadi akhirnya sampailah saya, setelah melewati jalur pemetik teh ke istal kuda. Sepanjang perjalanan “teawalk” saya berhati-hati: kotoran kuda ada dimana-mana. Memang bagian depan Gunung Mas adalah rute berkuda wisatawan. Pada hari biasa seperti ini (diluar Sabtu dan Minggu) tampak beberapa wisatawan dari Timur Tengah mencoba tunggangan kuda, sambil ngobrol-ngobrol di tea corner.

Saya juga beristirahat di tea corner. Disini kita bisa memesan poci teh hijau atau hitam, khas tempat ini atau kopi, bandrek sambil ditemani pisang goreng telanjang ; atau makan siang dengan nasi goreng, mie ayam atau soto mie. Harga makanan di tea corner lebih mahal sedikit dibanding di luaran, namun masih terjangkau.

Sehubung akan mengerjakan pekerjaan saya di tea corner, maka tak lupa saya membeli kotak berisi teh hitam, untuk dibawa pulang. Pilihan meja dan bangku dengan sudut memandang ke hamparan teh saya pilih sebagai tempat kerja saya. Bila ingin memakai laptop, Anda dapat memilih bangku di sudut, dengan colokan listrik di dekatnya.

Bunga teh, sebelum menjadi biji
Mengerjakan tugas dengan memandang kebun teh sungguh menyenangkan. Tak lupa saya siapkan minuman jahe yang saya seduh dengan air panas dari termos yang saya bawa. Angin dingin sehabis hujan kadang bertiup sehingga saya memutuskan memakai jaket lagi. Kabut seringkali muncul tiba-tiba, untuk kemudian terangkat lagi. Begitu berulang-ulang, dan kadang kabut masuk ke dalam restoran, sehingga rasanya seperti sedang bekerja di dunia lain.

Kertas-kertas saya susun rapi di meja. Gelas dan termos di bangku.

Sebenarnya kalau Anda senang berjalan-jalan, Anda bisa melanjutkannya ke arah atas sedikit dari Tea Corner. Ada pabrik teh yang bisa kita masuki dengan guide, areal bermain anak dengan bebek-bebekan di kolam, lapangan tenis dan penginapan. Pada hari Sabtu dan Minggu tempat ini cukup ramai, bahkan areal flying fox dan trampoline rope adalah salah satu lokasi favorit bermain pengunjung.

Saya sengaja berkunjung di hari kerja, kan tujuannya memang untuk bekerja juga 

Kira-kira 3 jam, pekerjaan saya selesai. Tidak terlalu banyak memang, namun energi saya kembali terisi.
Setelah ransel kembali disandang, saya berjalan-jalan sebentar di areal kebun. Saya sempat bertemu para perempuan pemetik teh, dengan plastik di dada sampai kaki – sebagai penangkis embun saat memetik teh. Gerombolan berjalan searah, seperti para semut berwarna-warni di antara hijaunya daun teh.

Kalau saja memang kantor kita semua berada di tengah-tengan kebun teh…

Get There and How to Survive

Dari Terminal Bis Bogor (Baranang Siang) Anda dapat naik angkot jurusan Baranang Siang Ciawi sampai Ciawi (Rp 2.000, 30 menit) dan meneruskan dengan angkot jurusan Ciawi – Cisarua (Rp 5000, 45 menit). Jangan lupa untuk memberitahu supir bahwa Anda akan turun di Tugu, sebab tidak semua angkutan sampai kesana. Apabila menginginkan lebih murah Anda dapat menggunakan minibus / bus dari Terminal Baranang Siang sampai Tugu dengan ongkos Rp 5.000. Apabila ingin menghemat, Anda yang dari Jakarta dapat menggunakan kereta ekonomi (Rp 2.500) atau naik bis dari Kampung Rambutan – Garut / Tasikmalaya dan turun di Tugu.

Apabila ingin menghemat biaya, silahkan ikuti jalur masuk para pemetik teh (tanpa tiket  ^^V )makan siang dapat dilakukan di luar tea cornering (atau sebelumnya, di warung-warung di Tugu). Bawa termos air panas, gelas, sendok, kopi dan jahe instan. Hitung-hitung, sebenarnya dengan Rp 15.000 - 20.000 semua sudah bisa di cover, dari perjalanan, makan siang en oleh-oleh teh tubruk... Memang hemat dan bahagia bisa jalan seiring kok...

Read Users' Comments (0)

Mie Ayam Jamur "Gaya Tunggal"


Ingin menikmati mie ayam gaya lama di Bogor? Mampirlah sebentar ke Gaya Tunggal, restaurant mie ayam jamur terkenal di Bogor sebelum pulang ke kota Anda masing-masing.

Bagi sebagian warga tua Bogor, Gaya Tunggal lebih daripada rumah makan yang menyediakan menu-menu chinese food lezat, melainkan tempat untuk bertemu, kongkow-kongkow dan bernostalgia.

Menurut orang tua saya, dahulu Gaya Tunggal dikenal sebagai rumah makan Washington, letaknya sudah sama seperti sekarang yaitu di depan Gedung Zoologi Bogor, atau sering dipanggil Gedung Blao oleh warga asli Bogor dahulu.Lagi, menurut orang tua saya, rumah makan Washington ini sudah ada sejak tahun 1950an, saat Pasar Ramayana dan Pasar Bogor masih becek-beceknya (sekarang Mall BTM dan Plaza Bogor) dan Bio (Klenteng) dalam bentuk aslinya.
Pergunakan sedikit kuah saja...
Sempat pindah ke Pasar Anyar tahun 80an dan 90an: di dalam Pasar Anyar sebelum terbakar di tahun 80an akhir dan pindah ke sebuah gang kecil di sudut Pasar Anyar di sudut jalan Sawojajar, saat ini Gaya Tunggal sudah punya 2 cabang di Bogor yaitu di pertokoan Jalan Bangbarung (restaurant) dan Food Court Mall Botani Square. Bangunan lama di depan Gedung Zoologi sudah ditempati lagi, sekaligus menjadi tempat berkumpul dan bernostalgia

Menu yang sangat terkenal di sini adalah mie ayam jamur, yang bisa ditambah dengan bakso dan pangsit basah / kering. Sebagai teman minum, selain teh hangat kita juga dapat memesan es kelapa kopyor, shanghai, atau menu standar saya: es sirup yang baiknya tidak diaduk merata karena biasanya sangat manis (atau mintalah tambahan air putih sebagai pengencer).

Mie ayam di Gaya Tunggal dibuat sendiri. Rasanya percampuran sedikit asin dan manis, tidak menggigit namun pas saat disantap. Rasa jamurnya manis dan merupakan teman sejati dari mie ayam, sama seperti potongan ayamnya yang putih bersih, sedikit asin.

Kita tentu saja bisa memesan yamien, atau biasa namun saran saya nikmatilah mie ayam bakso jamur pangsit ini seadanya. Tambahkan hanya sedikit kecap manis apabila menginginkan tambahan rasa manis, atau sedikit saus bila menginginkan pedas, jangan terlalu banyak karena akan menghilangkan rasa asli dari mie ayam jamur itu sendiri. Pergunakan sedikit kuah, hanya untuk mengaduk mie ayam agar jamur dan potongan ayam tercampur rata.

Untuk mengulang rasa aslinya, minumlah teh hangat di tengah perjalanan makan, lalu lanjutkan makan. Rasa teh yang pahit akan menimbulkan kembali rasa gurih mie ayam jamur saat disantap.

Apabila Anda bukan penggemar mie ayam, silahkan coba nasi tim ayam (menurut sepupu saya "terbaik di dunia") atau masakan chinese food lain seperti nasi goreng, mun tahu, capcay, puyunghay dan bistik. Semua masakan halal.

How Much and How We Can

Mie ayam dengan tambahannya, jamur bakso dan pangsit berkisar antara Rp 8000 sampai 15000. Es sirup Rp 3000. Masakan dan minuman lain tidak mahal. Menu lain yang istimewa menurut saya adalah nasi tim ayam. Kunjungi rumah makan Gaya Tunggal yang berada di depan Gedung Zoologi Bogor, dekat pintu masuk Kebun Raya Bogor untuk rasa yang tetap asli. Untuk mie ayam, jangan gunakan delivery atau bawa pulang, rasa akan berbeda.

Read Users' Comments (0)