Tips Lihat si Kecil-Kecil di Pantai

Jalan-jalan ke pulau selalu menarik bagi saya sebab saya menyukai kehidupan laut dan pantai. Saya agak mampu mengidentifikasi sebagian flora dan fauna laut tersebut sehubungan mempelajarinya di kuliahan tahunan yang lalu. Bahkan pernah juga karena saya waktu SMA keranjingan baca buku pengetahuan, saat ujian ikhtiologi di kuliahan, dimana ada pertanyaan mengenai jenis-jenis ikan beserta nama Inggris, lokal dan Indonesianya, nilai saya berubah jadi A dari seharusnya C, karena bagian bonus yang bobotnya amat tinggi tentang pertanyaan jenis-jenis ikan tersebut dapat saya jawab dengan mudahnya (bangga, sebab hobi saya jalan ke pasar dan bergaul dengan tukang ikan hias berbuah manis jadinya).
Namun di pulau seringkali hal-hal menarik terlewatkan karena ketidaktahuan kita. Pantai yang luas sering dipandang hanya sebagai pantai yang kering dan berpasir. Warna pasirnya hitam, coklat atau putih. Itu saja. Padahal tidak begitu.
Paling mudah untuk melihat makhluk laut adalah dengan mengambil sebongkah karang mati, ataupun tanaman laut (rumput laut atau algae) , membiarkannya pada stoples bening berisi air laut dan menunggu beberapa menit sampai para penghuninya menampakkan diri. Percaya atau tidak, tak lama kemudian para penghuninya akan keluar: dari cacing-cacingan, udang, siput, sampai mungkin ikan kecil yang tadinya nyumput di rongga karang.
Kalau lupa bawa stoples bening, kita bisa pakai botol bekas aqua ataupun pinjam gelas belimbing dari warung kopi.
Kehidupan laut juga menarik di waktu yang berbeda: pagi siang sore malam. Contohnya ubur-ubur, akan bertambah banyak di waktu lebih gelap dan mereka akan lebih mendekat ke arah permukaan air untuk mengejar plankton makanannya. Pagi dan malam adalah waktu yang tepat untuk melihatnya berkelap-kelip indah.
Di siang hari, mereka masih dapat dilihat apabila kita jeli, menyelam sambil menggunakan masker dengan memfokuskan pandangan jarak dekat (misal membayangkan ada jari sejauh 50 cm dari mata kita).
Teman-teman saya biasanya suka heran karena saya dapat menjumpai banyak binatang ini, sedangkan mereka mengaku tidak menjumpainya dimana-mana.
Pasir juga dapat kita gali. Di pantai berterumbu karang, pada jarak 1 meter dari batas air pasang bila kita gali pasirnya, kita mungkin menjumpai kerang-kerangan yang mengubur diri di bawah pasir.
Jadi pantai bukan hanya sunset dan sunrise. Mari belajar pantai dari yang aslinya... Kita bisa kok melihat makhluk-makhluk yang ada di National Geographic channel dari mata kita sendiri.  
 
 http://indras-important.blogspot.com/2013/06/tips-lihat-si-kecil-kecil-di-pantai.html
 

Read Users' Comments (0)

Angkutan di Pa Tong Beach, Phuket

Saat saya berada di Phuket, kami pergi mengunjungi pantai-pantainya. Salah satunya adalah Pa Tong Beach.
Sebelum pergi kami sudah mendapatkan informasi bahwa setelah pukul 17.00 maka tidak ada lagi angkutan umum dari pantai menuju kota.
Jam 16.00 kami bersiap-siap pulang, dan 16.15 kami sudah siap di pinggir jalan. Angkutan umum masih ada jadi kami menunggu sampai ada yang siap-siap berangkat untuk segera ditumpangi. Herannya setelah sekitar 10 menit menunggu, tidak ada yang bergerak, dan baru kami tahu setelah bertanya bahwa sejak pukul 16.00 angkutan sudah off.
Lah... kok jadi maju 1 jam ya dari jadwal?  Jadi kami tertipu saat melihat angkutan yang sedang ngetem, yang awalnya kami kira kalau mereka akan segera berangkat; namun ternyata mereka sedang siap-siap mematikan mesin.
Strategi ini cukup aneh, karena sebenarnya mereka masih mau pergi ke kota kalau disewa seluruh mobilnya yang tentunya jauh lebih mahal daripada bayar biasa. Jebakan batman kata orang kampung saya sih.
Setelah 30 menit menunggu, berharap kalau saja ada angkutan yang masih narik penumpang secara normal kami menyerah. Rupanya kesepakatan ini berlaku secara masal untuk seluruh sopir angkutan, dan sepertinya banyak turis yang terjebak seperti kami. Lalu lalang bingung di pinggir jalan.
Yang sama-sama ditinggal ma angkot di Pa Tong
Hasil akhir adalah kami patungan untuk naik angkutan: 2 turis bule, 3 turis sewarna, 1 orang turis Jepang hasil lobi sana-sini. Tentunya dengan ongkos berlipat dari biasa.
Moral dari cerita ini adalah hati-hati terhadap informasi internet yang sering tidak up to date walau baru diposting 2 bulan lalu, dan jadilah orang yang agak kaya agar kejadian seperti ini tidak terlalu menjadi beban bagi Anda. Kasihan kami contohnya yang lalu hanya bisa beli nasi putih saja dan ayam goreng jalanan, di dua tempat terpisah dengan tujuan penghematan dana kolektif sehubungan kejadian ini.
 http://indras-important.blogspot.com/2013/06/angkutan-di-pa-tong-beach.html

Read Users' Comments (0)

Jam Tangan yamg Berharga

Mengapa saya jadi pakai jam tangan kalau sedang bepergian sekarang? Itu ada alasannya. Beginilah kira-kira.

Dulu saya menganggap bawa HP saja cukup saat jalan-jalan, karena ada jamnya toh? Nah pernah suatu saat saya sedang jalan-jalan di Ca Dai Temple di sekitar Saigon (Ho Chi Minh) anggapan saya terbukti salah.

Di dalam kuil Cao Dai
Jalan-jalan ke Cao Dai Temple (unik, sebab ada beberapa agama besar di situ yang dibungkus jadi satu kepercayaan baru) saya mengikuti tur seharga 7 USD (plus tur ke Cu Chi tunnel markas gerilyawan Viet Cong dulu – exclude tiket masuk). Mudah, murah juga (apalagi kalau setelah sampai Cu Chi tunnel tidak jadi masuk dan cuma nongkrong di dekat loket karcis).

Anyway, pemandu wisata yang bekas guru bahasa Inggris menerangkan tentang keunikan agama Cao Dai tersebut, termasuk berapa lama waktu berkunjungnya.

Setelah sampai dan lama berputar-putar, serta melihat upacara dan permainan musik di dalam kuil, saya cek waktu melalui HP saya. Eh ternyata HP itu tertinggal di hostel (terbawa kebiasaan meninggalkan barang tersebut di ransel pakaian sebab sering tidak diaktifkan kalau pergi keluar negeri, takut kena rooming).

Saya lalu berpanduan kepada jam tangan yang dipakai oleh turis bule sekitar. Sebentar-sebentar saya lihat dan karena upacara keagamaannya belum selesai dan masih banyak kelompok turis berkeliaran saya tenang-tenang saja.

Beberapa selang kemudian sekitar 15 menit dari akhir bertemu, dengan muka masam dan marah munculah teman saya. Ternyata saya sudah mau ditinggal bis tur dan ia menyusul saya balik di kuil dengan tergesa-gesa. Untunglah ia tak lama marah kepada saya karena memang orangnya baik kok.

Saya balik ke bis dan dipelototin si pemandu dan para turis lain yang kesal menunggu saya.

Jadi selanjutnya, dalam perjalanan saya selalu pakai jam tangan. Dari jam tangan karet anak-anak, digital, sampai yang termutakhir Swiss Watch – semua jadi kewajiban kalau sedang berjalan sebab saya tetap memilih mematikan HP saat berjalan (kecuali di tahun-tahun akhir setelah lebih sering membeli kartu SIM lokal untuk melakukan SMS ke rumah, dan dimana provider mobile phone lebih ramah karena meniadakan rooming).

Dan jangan lupa, jam tangan yang dipakai tetangga belum tentu benar penunjukkan waktunya. Mungkin saja dimajukan 15 menit supaya bisa bangun lebih pagi. Time is important in a scheduled tour.

http://indras-important.blogspot.com/2013/06/jam-tangan-yang-berharga.html

Read Users' Comments (0)

Tentang Booking Hostel Kalau Bacpackeran

Hostel yang mendapatkan peringkat yang baik belum tentu aman dan memuaskan pelayanannya. Pengalaman ini adalah berdasarkan pengalaman saya mengunjungi hostel di Ho Chi Minh City (HCMC).

Hostel, Bar dan Makanan di sekitar Jalan Pham Ngu Lao, Ho Chi Minh
Hotel bernama My My Arthouse ini terletak di Pham Ngu Lao street, jalan no 219 (di dalam jalan no 219 ini banyak terkumpul hostel-hostel lainnya). Saya melakukan booking di hostelworld seminggu sebelumnya dan semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Malah balasan email yang saya terima sangat infomatif walau bukan jawaban secara pribadi karena nampaknya hasil copy paste untuk turis lain. Tapi untuk upaya ini, saya menganggap rating pelayanan yang diberikan via hostelworld tidak salah.

Saya datang malam hari sekitar jam 10 dengan memberikan kabar sebelumnya dan pemilik hostel menjawab kesediaannya untuk tetap membuka pintu hostelnya (ternyata hostel di daerah ini buka 24 jam walau memberikan info hanya buka sampai jam tertentu – nampaknya berkaitan dengan persaingan bisnis yang ketat dengan hostel lain).

Yang saya prihatinkan adalah apa yang terjadi kepada turis lain dari Malaysia. Mereka datang lebih malam daripada saya, dan malangnya kamar mereka masih terisi oleh orang lain. Pemilik hotel mencarikan kamar lain, dan rupanya karena sudah lelah si turis Malaysia angkat barang saja dan setelah naik 3 lantai membawa carrier berat, keempat-empatnya turun lagi. Sambil marah-marah mereka protes karena kamar yang diberikan dibawah standard. Mungkin terlalu kecil dan tidak ber AC.

Salah satu hotel yang saya tempati, nyaman dan bersih
Si ibu yang tidak bahasa Inggris disemprot. Memang benar, yang selama ini berkomunikasi dengan email berbahasa Inggris dengan si turis adalah anaknya, si Hanh. Kasihan juga melihat ibu tua ini disemprot, dan kasihan juga melihat para turis Malaysia ini terlantar malam-malam. Si anak pemilik hostel (Hanh) ditelpon, dan sialnya tidak ada jawaban karena setelah dicari, HPnya ditemukan tertinggal di dekat meja resepsionis.

Yes... shit happened sometimes (buat si Hanh, ibunya dan para turis yang sudah kecapean itu).

Saya ingin menerangkan, kalau sistem pemesanan hostel kebanyakan adalah sistem tradisional. Jadi jika kita sudah melakukan booking, apabila tamu sebelumnya di kamar kita belum keluar maka booking kita pasti dipindahkan ke kamar lain, atau makin malang nasib kita kalau tidak ada kamar kosong sama sekali, bisa terlantar kalau sedang ada di wilayah sepi hostel.


Murah... hostel seharga 6 USD semalam (model dormitory)
Pada hostel tertentu mereka menyediakan kamar khusus untuk kejadian-kejadian seperti ini. Tapi tidak semua hostel punya sistem buffer yang baik.

Jadi saran saya adalah, datanglah (kalau bisa) pada hari yang tidak terlalu malam agar tidak terlalu letih. Kedua, apabila pihak hostel tidak bisa segera memberikan jaminan kamar segeralah cari hostel lain – jangan buang waktu misalnya dengan menunggu, menaruh barang dan jalan-jalan dulu sebab bisa saja saat kita kembali dan lelah ternyata kamar hostel belum juga tersedia. Ketiga, kalau mau menengok kamar lain, letakkan carrier berat di lantai bawah. Kalau sudah yakin, baru bawa carriernya ke atas.

Lain-lainnya, adalah (ini saran umum saja): bawa bukti booking, tanyakan alamat dengan jelas via email. Pilih taksi (kalau tidak ada bis) yang terpercaya saja (cek lewat cerita para turis). Sediakan uang kecil (kebanyakan supir taksi tidak akan mengembalikan uang kembalian yang agak kecil). Cari alamat hostel cadangan yang dekat dengan hostel pilihan pertama (kalau-kalau hostel pertama jorok dan bau).

http://indras-important.blogspot.com/2013/06/saran-booking-hostel-kalau-bacpackeran.html

Read Users' Comments (0)

Bromo Tengger - Lukisan Sang Pencipta

Lautan pasir terhampar sejauh mata memandang, gunung menjulang menggapai batas langit, hawa sejuk menelusup hingga tulang, eloknya lukisan Sang Pencipta...

Salah satu kawasan wisata yang wajib dikunjungi bagi para pelancong adalah Bromo. Kawasan ini termasuk ke dalam taman nasional Bromo Tengger Semeru. Bromo adalah sebuah gunung vulkanik yang masih aktif dan sudah mengalami beberapa kali letusan. Kawahnya yang menganga lebar menjadi bukti fenomena alam tersebut, mengerikan sekaligus mengagumkan. Sedangkan Tengger adalah nama masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan ini, sebagian besar orang Tengger menganut agama Hindu. Semeru merupakan salah satu rangkaian pegunungan yang berada di Jawa Timur dan merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa yang sering dijadikan sebagai tempat pendakian.
Banyak tujuan yang bisa dikunjungi di kawasan ini. Mulai dari berburu sunset di Pananjakan, mendaki kawah Bromo, menikmati hamparan lautan pasir, memanjakan mata dengan indahnya padang rumput, bermain air di Ranu Kumbolo atau air terjun Madakaripura, dan tentunya menghirup udara segar dan merasakan jernihnya air pegunungan yang super dingin.

Sunrise di Pananjakan
Untuk menggejar sunset tentunya butuh sedikit pengorbanan untuk bangun lebih pagi (sekitar jam 4), kalau terlambat sedikit saja maka perjalanan menuju Pananjakan akan macet oleh jeep-jeep pengunjung lain ataupun orang yang juga memburu sang mentari, keramaian akan bertambah kalau sedang musim libur. Sekitar jam 6 pagi matahari mulai muncul perlahan di balik pegunungan (jangan lupa berdoa agar cuaca tidak mendung).
Kendaraan andalan untuk menaklukan medan lautan pasir Bromo adalah jeep. Harganya cukup mahal, butuh keahlian menawar jika ingin  mendapatkan diskon (walaupun sebenarnya sudah ada harga yang ditentukan oleh paguyuban pengelola wisata disana). Alternatif lain kendaraan yang bisa digunakan adalah naik motor/ojek, pilihan ini lebih dianjurkan jika kita solo backpacker atau dalam rombongan kecil. Lebih murah dan fleksibel, bisa minta diantar ke berbagai spot-spot menarik lainnya. Jangan lupa menggunakan masker jika akan menggunakan motor karena debunya cukup mengganggu. Pada saat di lokasi, banyak juga pengunjung dari dalam kota dan sekitarnya seperti Surabaya, Malang, atau lainnya yang menggunakan motor untuk menjelajahi lautan pasir di sekitar kawasan.

Ratusan anak tangga

Setelah menikmati sunrise, jeep sudah menunggu untuk melakukan perjalan selanjutnya menuju kawah Bromo. Perjalanan menuju kawah start dari parkiran jeep, jika tidak ingin cape bisa juga naik kuda masyarakat yang disewakan hingga titik sebelum naik tangga menuju kawah. Kabar baik bagi para non-pendaki gunung, di Bromo Anda bisa mencapai kawah gunung dengan melewati anak tangga yang miring dan curam serta penuh dengan pengunjung sehingga terjadilah antrian panjang. Bagi Anda yang tidak 'sabaran' (seperti saya), ilmu salip menyalip juga bisa digunakan. Jalur di setiap sisi di luar tangga bisa digunakan untuk mendaki namun tanpa anak tangga, hanya pasir yang cukup dalam jika diinjak, seperti main ski di pasir :D
Gunung Batok
Sepanjang perjalanan menuju kawah Bromo, mata akan dimanjakan oleh panorama alam yang begitu indah dan menakjubkan. Gunung Batok berada tepat di sisi Bromo, berdampingan. Bentuknya mengerucut sempurna tapi tumpul di bagian ujungnya. Di belakangnya terlihat puncak gunung Semeru yang menjulang tinggi meski jaraknya cukup jauh dari kawasan Bromo.


Beautiful Pura
Dataran lautan pasir yang mengelilingi kawasan Bromo terlihat kontras dengan adanya Pura yang berbentuk kotak persegi tidak jauh dari kawasan parkir jeep. tempat ini hanya dibuka jika ada acara keagamaan dan penziarah yang berasal dari Bali. Penziarah menyakini bahwa nenek moyang mereka merupakan keturunan suku Tengger sehingga mereka berkewajiban untuk melakukan sembahyang di Pura tersebut.

How to get there:
Jalur Surabaya >> Jakarta - Surabaya  (kereta ekonomi 16 jam)- Bungur Asih (bus kota 1 jam)- Probolinggo (bus kota 2 jam)- Cemoro Lawang (Bison/Elf 1 jam) -- jalaur yang saya gunakan
Jalur Malang >> Jakarta - Malang (kereta)- Arjosari (?)- Bromo (dengan jeep dengan harga yang cukup mahal)

Transportation and Akomodasi:
Kereta ekonomi JKT-SBY >> 40 k
SBY-Bungur Asih >> 4 k
Bungur asih-Probolinggo >> 23 k
Probolinggo-Cemoro Lawang >> 25 k (nunggu rombongan penuh)
Guest house (7 org) + makan 2 kali >> 85 k/org
Sewa jeep (7 org) >> 145 k (Pananjakan dan kawah Bromo)
Sewa ojek >> 100 k ( savana dan pasir berbisik)

Note:
*belum termasuk pengeluaran pribadi dan makan/ngemil selama perjalanan
*jangan lupa makan bakso Bromo yang cukup menghangatkan badan dengan harga cukup murah (7k)





Read Users' Comments (1)comments

Pulau Pari ala Ransel

Time to camping ceriaaa....

the blue swing
Setelah sekian lama ingin menghirup udara segar karena sumpek aktivitas rutin, finally saya berhasil mengajak "partner in crime" untuk camping di alam terbuka. Dari sekian banyak tempat, gunung atau pantai akhirnya kami memutuskan jalan ke Pulau Tidung karena saya amat suka pantai dan tempatnya cukup terjangkau dengan budget yang minim. Setelah gugling kesana-kemari akhirnya beberapa info mengenai transport dan akomodasi bisa menjadi acuan. Berhubung travelingnya ala backpacker, jadi tenda dan teman-temanya harus dipersiapkan.

Hari pertama #1
Saya berangkat kereta paling pagi dari Bogor jam 5.30 dan sekitar dua jam kemudian sampai di stasiun Kota. Keluar dari stasiun trus berjalan ke arah shelter busway dan menyebrang jalan. Metromini 02 arah Muara Karang (warna  biru) yang akan menuju pelabuhan sudah menunggu di depan bank mandiri (dekat shelter busway). Perjalanan sekitar 10 menit kemudian dilanjutkan naik angkot merah 01  jurusan grogol-muara angke sampai terminal ujung. Untuk menuju pelabuhan bisa berjalan sekitar 5-10 menit atau naik odong-odong (sejenis becak motor), kami memilih berjalan karena jalan macet tapi konsekuensinya jalanan becek dan bau amis ikan yang sangat menyengat sepanjang jalan. Ketika tiba di pelabuhan sudah banyak penumpang lain yang akan menyebrang juga, crowded dan bingung karena tidak ada penunjuk arah atau informasi untuk setiap tujuan kapal.

Semua orang sibuk dengan rombongannya masing-masing, saya akhirnya bertanya ke abang-abang yang lagi nangkring di kapal. Kapal yang paling dekat dengan gerbang pelabuhan tujuannya ke Pulau Pramuka kemudian jajaran kapal di sebelahnya tujuannya ke Pulau Kelapa. Sedangkan kapal untuk ke Pulau Tidung terhalang oleh kapal yang bersandar  sehingga harus desak-desakan berjalan diantara kapal-kapal yang lainnya. Tiba-tiba ada yang berteriak "kapal ke Tidung habis...sudah full semua..." Jiahhh...sudah bela-belain berangkat subuh-subuh tetep aja ga kebagian kapal :( Daripada nunggu lama-lama kapal selanjutnya akhirnya kami naik kapal yang paling dekat dari posisi kami menunggu, kapal itu menuju Pulau Pari. Penasaran dan deg-deg'an pas kapal akhirnya melaju menjauhi pelabuhan muara angke. Kami sama sekali tidak tau informasi tentang pulau itu, tapi enjoy aja lah ya...Sekitar dua jam kapal berlabuh di Pulau Pari, dermaganya kecil airnya biru hijau dan bersih tanpa sampah :)

overload passanger
Karena kami sama sekali buta informasi akhirnya sambil istirahat ngeliatin rombongan lain yang sibuk bergerombol menuju homestay masing-masing. Setelah nanya-nanya akhirnya kami mendapatkan informasi kalau area camping ada di area Pantai Perawan yang menjadi spot andalan pulau ini. Kemudian kami berjalan membelah pulau, melewati sekolah, pemukimam penduduk yang berjejer rapi dan bersih. Sekitar 10 menit kami sampai di pantai perawan dan membayar tiket untuk camping. Setelah menemukan tempat yang enak buat leyeh-leyeh akhirnya kami membentangkan hemock dan istirahat sambil ngobrol-ngobrol dengan orang pulau, salah satunya Bp. Buyat. Banyak cerita dan gambaran mengenai pulau yang indah ini dari mereka. Pulau Pari mulai terbuka untuk wisata sekitar 2 tahun yang lalu, sebelumnya masyarakat adalah nelayan dan pembudidaya rumput laut. Namun, karena laut yang semakin tercemar sehingga ikan berkurang dan rumput laut tidak bisa tumbuh lagi, maka masyarakat berinisiatif untuk melakukan promosi wisata pulau. Kebanyakan pengunjung yang datang adalah rombongan paket tour, jarang pengunjung yang datang secara individual atau backpacker seperti yang kami lakukan.

snorkling in the evening
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Pa Buyat, kegiatan snorkeling biasanya dilakukan di pulau tetangga yaitu pulau tikus atau bisa juga di area sekitar pulau tanpa harus menyebrang. Akhirnya pada sore hari kami menyewa sampan untuk ber'snorking di sekitar pulau saja. Sebenarnya, ikan-ikan yang ada di sekitar area pulau cukup banyak tapi kondisi terumbu karangnya biasa saja, kebanyakan berwarna pucat dengan keanekaragaman yang rendah tapi lumayan lah...Ketika hari mulai gelap kami segera berkemas untuk mencari tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda. Malam itu ada rombongan yang akan mengadakan acara di pantai perawan, sehingga pasti akan bising sekali dengan adanya speaker di dekat warung sekitar pantai. Sungguh sangat disayangkan moment untuk menikmati indahnya pulau sedikit terganggu oleh suara musik dari speaker tersebut.

Hari kedua #2
Pagi-pagi di luar tenda sudah ramai pengunjung yang mengabadikan 'sun rise'. Menikmati pagi dengan secangkir kopi dengan pemandangan hamparan laut biru dan pasir putih itu sangat menyenangkan dan menyegarkan. Sekitar jam 9 pagi kami sudah packing dan siap-siap kembali ke dermaga pelabuhan menunggu kapal yang akan membawa kami kembali. Sekitar jam 11 siang kapal jemputan sudah datang dan langsung diserbu pengunjung yang akan kembali ke daratan. Kapal berangkat satu jam sesudahnya dan sampai di pelabuhan muara angke sekitar jam 2 siang. 

Note:
#Berhubung kami jalan ala bacpaker maka semua bekal/logistik kami bawa dan dimasak sendiri sedangkan berdasarkan informasi penduduk menyediakan paket prasmanan jika pesan terlebih dahulu. Harga makanan di warung cukup 'normal' untuk area wisata.
#Kapal penyebrangan reguler kebanyakan masuk ke paket wisata jadi penumpang yang ga ikut paket bayar langsung ke awak kapalnya atau beli tiket di pelabuhan (dengan asuransi).

it's tedong-tedong
How to get there and the cost (PP):
* Bogor-Kota >> 4000 (kereta ekonomi)
* Kota-Muara Karang >> 4000 (metromini)
* M. Karang-Muara Angke >> 4000 (angkot merah 01)
* M. Angke-Pelabuhan >> 4000 (odong-odong) kalau jalan juga deket
* Pelabuhan-Pulau Pari >> 60000 (kapal kayu), 64000 (pakai asuransi), 52000 (kapal kerapu) penumpang terbatas dan pelabuhan terpisah
* Tiket pantai perawan >> 10000
* Sewa alat snorkeling >> 30000 
*Sewa satu sampan >> 50000 (sekitar 2 jam, bisa lebih tergantung nego)

Read Users' Comments (0)

Sego Empal "Makyusss"

Jika berkesempatan mengunjungi kota Yogyakarta dan ingin menikmati kuliner ala backpacker'an (murah meriah) maka sego empal ini tidak boleh dilewatkan. Harganya yang terjangkau sekitar 12ribu/porsi dengan kulitas rasa yang tidak kalah dengan resto membuat sego empal ini isttimewa. Satu porsi sego empal ini terdiri dari nasi, empal atau lauk lainnya, lalapan mentah dan tentunya sambel korek yang super pedas memanjakan  lidah, apalagi jika ditambah sayur asem-asem tambah maknyuss. 
Daging empal yang empuk dengan cita rasa khas ditambah dengan sambel yang pedas, nasi putih yang masih mengepul dan sayur asem-asem yang tentu saja asam membuat kombinasi yang cukup ajaib untuk membuat mulut ini terus mengunyah hingga suapan terakhir tanpa terasa.
Lokasi sego empal ini berada di pasar Bringharjo lantai 2. Karena belum mengenal medan Bringharjo yang cukup luas maka cukup sulit juga menemukan tempat makan ini, cara ampuh untuk cepat mengetahui tempatnya ya bertanya :D
Ketika menemukan lokasi sego empal 'Bu Warno' tidak seperti yang saya bayangkan (ngebayangin tempat makan dengan interior kafe atau resto). Tempat makan ini sangat sederhana, sebuah kios dengan luas sekitar 2x3 meter, terdapat 2 bangku panjang dan meja untuk sajian. So, jika berburu batik di Bringharjo jangan lupa singgah untuk menikmati kuliner ini.

Read Users' Comments (2)